× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SENIBUDAYA

'Silaturasa' Punk Ala Marjinal

Marjinal, band street punk Jakarta yang tak sekadar bermusik...

Volunteer
'Silaturasa' Punk Ala Marjinal
Foto: pasarhamburg.com

11/11/2019 · 15 Menit Baca

Bagi Marjinal, punk bukan hanya sekadar genre musik tetapi ia adalah sebuah gerakan sosial. Sejak didirikan tahun 1996 — kala itu band ini bernama Anti ABRI, lalu sempat berganti menjadi Anti Military– Marjinal sering terlibat di beberapa aksi menuntut rezim Orde Baru.

Di berbagai tempat aksi semisal di Semanggi, gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Cendana, di Tugu Tani, mereka selalu ikut. Pada masa-masa tersebut mereka akan berdiri di atas truk dan berada di barisan depan untuk bermusik, mengiringi kerumunan demonstran di belakangnya. Sering pula terjadi chaos saat aksi.

“Jadi kalo ketangkep juga duluan tuh, kejar-kejaran duluan, kan di depan,” kenang Bobby Firman Adam, sambil tertawa. “Gua selalu lolos ngga pernah di tangkep.” Bob, begitu sapaan akrabnya, adalah bassis dari Marjinal sejak awal berdirinya band ini.

Guna memperkuat wacana mereka, di tahun itu, mereka membentuk sebuah komunitas yang diberi nama Anti Fascist and Racist Action (AFRA), sebagai sarana diskusi dengan beberapa komunitas yang terjaring membahas eskalasi politik teraktual di Indonesia. Jika ingin membaca literatur anti fasis yang berbahas inggris, Bobby biasanya meminta bantuan kepada kawannya di AFRA untuk diterjemahkan.

Selain itu, mereka juga membaca buku-buku, seperti: Di Bawah Bendera Revolusi (Soekarno), Madilog (Tan Malaka), Tetralogi Buru dan Nyanyian Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer), walaupun harus secara sembunyi-sembunyi karena buku seperti itu dilarang kala itu.

Rezim Orde Baru dianggap rezim yang fasis karena selama 32 tahun dikuasai oleh orang yang sama dan banyak melibatkan aparat keamanan negara. Saat itu rakyat bersatu untuk meruntuhkan rezim Soeharto. Sehingga melalui AFRA mereka membangun jaringan ke beberapa komunitas dan organisasi lain guna melakukan gerakan perlawanan.

Bob bercerita, pertemuannya dengan teman-teman yang lain di Marjinal itu berawal di Kampus Grafika di Jakarta Selatan, utamanya dengan Mike. Bob memutuskan untuk keluar di semester 3 dan memilih untuk berkegiatan bersama Marjinal. Sebelumnya, Mike (Vokalis Marjinal) lebih dulu memutuskan berhenti berkuliah karena lebih konsen di gerakan-gerakan sosial. Selain bermusik dan ikut dalam demonstrasi, kadang Bob dan Mike berjualan kartu lebaran dan buku-buku di Blok M.

Setelah melewati tahun-tahun Orde Baru, permasalahan yang terjadi di skena punk semakin bergeser ke dalam persoalan komunitas punk itu sendiri yang dirasakan oleh Marjinal. Misalnya di tahun 2007 saat Marjinal mengambil sikap untuk muncul di media. Beberapa komunitas punk tidak sependapat dengan keputusan Marjinal untuk terlibat di stasiun televisi. Waktu itu di RCTI program acara Urban dengan tajuk “Generasi Punk”. Marjinal dianggap menghianati idealisme punk yang anti media dan anti kemapanan.

Namun, Marjinal melihatnya berbeda, bahwa kemunculannya di media bukan sebuah penghianatan terhadap idealisme punk melainkan sebuah upaya edukasi ke masyarakat luas. Mereka ingin mengubah cara pandang masyakarat melihat punk. Cara yang tepat bagi Marjinal dengan menggunakan media massa. Selama ini, kata Bobby, jika punk selalu dianggap kriminal, broken home, penganggu, dan pembawa masalah.

Sejalan dengan itu, Petrus Djeke Boy (pemain drum dan akordeon Marjinal) sebelum bergabung dengan Marjinal, ia dan komunitasnya telah mendukung keputusan Marjinal untuk tampil di media. Ia mengatakan bahwa Marjinal telah membuka pikiran masyarakat tentang punk.

“Mereka saat itu ngga tahu kalau komunitas gua support mereka. Karena gua tahu rasanya kena stigma negatif,” Katanya. Boy sendiri bergabung dengan Marjinal baru di tahun 2008.

Boy dan Bob sama-sama meyakini permasalahan selama ini karena mereka anti media, masih menganut paham dari luar. Sementara, permasalahan yang dihadapi di sini menurut mereka memang berbeda dengan negara-negara lain. Pernah suatu ketika Bob berkunjung ke Jerman dan Belanda, ia menanyakan permasalahan anti media ke beberapa komunitas punk di sana.

“Karena di sana sistem pemerintahannya. Lo aksi, wajah lo kelihatan, besok lo ditangkep, sekarang di kita [Indonesia] beda,” jelas Bob. "Untuk memahami persoalan yang ada di negara sendiri, kita harus mengenal dan menganut paham lokal yang ada," lanjut Bob.

Dengan itu, punk rasa lokal pun mengilhami musik mereka, Marjinal lalu menciptakan lagu dengan unsur etnik, misalnya Rencong Marencong. Saat bermain akustik, Marjinal menggunakan alat musik tradisional, seperti ukulele, jimbe, dan empet-empetan (atau terompet yang terbuat dari batang padi/jerami). Nuansa etnik yang hadir di Marjinal dimaksudkan memberi kesadaran untuk lebih memahami negara sendiri dengan lokalitasnya.

Melewati fase-fase ini, Marjinal tidak ingin mempermasalahkan perbadaan-perbedaan yang terjadi. Perbadaan itu adalah sebuah pilihan secara sadar. Menurut mereka, malah yang menjadi masalah ketika orang memaksakan kebenarannya bagi orang lain, karena itu adalah sebuah bentuk fasisme.

 

Punk Harus Berani Membuka Diri

Ketika saya menyambangi rumah kontrakan komunitas Taring Babi di Gang Setiabudi, Jagakarsa, setiap orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing tak terkecuali Bobby dan Boy.

Satu orang yang duduk di depan pintu mengarahkan saya ke kursi teras rumah. Di dalam, Bobby dan beberapa yang lainnya sedang mengerjakan dekorasi untuk acara Isra Miraj di masjid yang tidak jauh dari basecampnya kala itu. Sementara Boy sendiri berada di teras samping sedang membuat pola dan menempel-nempelkan kulit salak ke sebuah papan triplek berukuran kecil yang nantinya akan dicukil dengan cutter.

Selama saya menunggu Bobby, lagu-lagu Marjinal menemani, "Rakyat bersatu melawan penindas…. ayo lawan para penindas… kita satu rakyat tertindas kita semua rakyat tertindas ayo lawan para penindas ..." diikuti oleh teriakan orang-orang dari dalam rumah menimpali lirik itu.

lagu berikutnya, …. "Politik mengabdi pada kekuasaan, politik mengabdi pada uang," dan Bob keluar menyapa, memecah perhatian saya dengan lirik barusan.

Marjinal saat di KPK

Basecamp Marjinal adalah sebuah rumah berlantai dua. Saya diajak Bob untuk berkeliling. Di lantai atas ada sebuah studio mini dan saat itu ada tamu mereka dari Austria, Dave yang sedang sibuk dengan komputer di depannya. Dave sudah lima hari menginap di Taring Babi dan ternyata dia yang memutar lagu-lagu Marjinal yang saya dengar dari teras rumah tadi.

"Di mana Mike?" tanya saya,

"Dia sedang di Jepang, ada proyek melukis di sana," jawab Bob

Rumah ini memang selalu terbuka untuk siapa saja yang mau belajar dan berbagi. “Kami juga biasa masak bareng, ngerujak bareng ibu-ibu di sini,” kata Bob, sambil mengajak saya duduk melantai di dapur.

Umam, seorang pedagang dari Pekalongan yang bergabung di komunitas Taring Babi sejak 2004 silam ada di situ. Awalnya kata dia, hanya mondar-mandir dari Kebayoran — tempatnya di Jakarta biasa berjualan — dan ke bascamp Taring Babi. Karena merasa di komunitas Taring Babi ia bisa banyak belajar, akhirnya memutuskan bergabung sampai saat ini. Kegiatan Umam menyablon beberapa marchandise Marjinal seperti kaus dan totebag.

Alasan utama kenapa Umam mau bergabung karena gerakan sosial yang dibangun oleh Marjinal. Sehingga akhirnya melalui komunitas Taring Babi, Umam juga mendirikan sebuah komunitas Peminum Bijak di tahun 2017 karena melihat fenomena di sekitarnya banyak yang meninggal karena miras oplosan.

Tidak hanya itu, Umam juga begabung karena dia merasa Marjinal tidak mengkotak-kotakan punk. Selagi ada ruang, Marjinal akan berkontrobusi di dalamnya. Jika dulu Marjinal banyak mengiringi para demonstran, sekarang tempatnya semakin luas bahkan di acara Isra Miraj, Marjinal juga turut tampil.

Marjinal adalah band yang mampu beradaptasi dengan lingkungan. Ketika akan tampil di tempat-tempat seperti itu mereka main dengan musik akustik. Dan juga ketika berada di tempat aksi misalnya, yang tidak memiliki aliran listrik, mereka akan bermain akustik.

Bermain akustik yang tanpa distorsi (seperti ciri khas musik punk pada umumnya) juga ditujukan agar pesan dari lagu Marjinal bisa tersampaikan dan musik mereka bisa diterima masyarakat luas.

“Kalau musiknya penuh distorsi, petani ngga mungkin negerti,” kata Boy tertawa. Namun panggung-panggung Marjinal juga tidak berjalan mulus, pernah di tahun 2013 di acara Hammersonic, mereka dilarang tampil. Pihak keamanan di sana tidak memberikan ijin.

Yang menarik dari Taring Babi mereka menggunakan istilah “Silaturasa” bukan lagi “silaturahmi”. Silaturasa menurut Bobby kita menjalin hubungan dengan rasa. Jadi muncul kepekaan dari teman-teman di Taring Babi untuk saling membantu dan peduli dengan masyarakat luas.

Sebagai anak punk, harus berani membuka diri kepada apapun dan siapa pun selama itu baik. Karena tempat kita dapat belajar juga ada di orang-orang lain. Dari situ basecamp Taring Babi tidak dipasang pintu pagar, jadi semua orang bisa masuk dari latar belakang apapun.

Selain itu, konsep yang diusung Marjinal dalam komunitasnya di Taring Babi — sebuah komunitas yang mewadahi kreatifitas para personil Marjinal– bukan lagi “Do It Your Self” tetapi “Do It Together”. Konsep itu lahir atas dasar semangat gotong-royong yang merupakan semangat Indonesia. “Jadi individu-individu di sini semua terlibat,” kata Bob.

Marjinal menamakan penggemarnya dengan sebutan Blaut, sebuah akronim dari belajar untuk tahu. Karena kita terbuka dan belajar bersama dengan teman-teman yang lain akhirnya ada beberapa lagu yang belum mereka rilis malah sudah banyak yang menyanyikannya. Misalnya Negeri Ngeri belum rilis banyak yang sudah mengetahui lagunya dan lagu Ibumu Ibuku juga begitu.

 

Marjinal Memulai Pergerakan Dari Masyarakat Termarjinalkan

Saat aksi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di depan istana pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Boy datang sendiri dan melihat Bobby dan Mike berseliweran di tempat aksi. Saat itu Marjinal tidak bermian musik. Ia datang secara individu untuk terlibat dalam aksi. Disitu pertama kali Boy bertemu dengan personil Marjinal.

Pertemuan selanjutnya di Domus Cafe, kata Boy, cafe itu juga dikelola teman-teman di Marjinal saat itu. Kebetulan Boy tampil dengan temannya dan setelah itu dia berkenalan langsung dengan Marjinal. Dari perkenalan itu sehingga Boy dipanggil untuk mengisi posisi drumer di Marjinal karena saat itu, beberapa hari kedepan Marjinal akan tampil di Pontianak.

Boy sebelumnya membantu mengisi posisi drum di Centimental Moods, sebuah band ska rock, tapi seiring berjalannya waktu, Boy merasa sejalan dengan Marjinal. “Aku memilih berkontribusi di Marjinal karena kontribusinya lebih besar ke masyarakat luas,” kata Boy saat setelah tampil dengan Marjinal di acara Solidaritas Untuk Eco di Joglo Beer, Kemang.

Kata Boy, Marjinal tidak hanya sekadar menyuarakan aspirasi lewat lagu tetapi juga membuktikannya melalui tindakan. Ketika bersolidaritas ke sesama korban, misalnya di Kendeng — korban pabrik semen — ia biasanya akan berada di lokasi tersebut selama 3 sampai 5 hari untuk melihat dan mempelajari kondisi yang terjadi di sana.

Selain itu Marjinal juga terlibat mendukung gerakan tolak pembangunan pengbangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) di Gunung Slamet. Boy menilai jika isu ini belum masif di masyarakat sehingga ia turut membantu menyuarakannya. Ia juga memfasilitasi warga di Gunung Slamet untuk melakukan diskusi di Lembaga Bantuan Hukum beberap waktu lalu.

Ketika menemui korban yang sedang berjuang, mereka, para personil Marjinal merasa mendapatkan energi tambahan, sebuah upaya agar mereka tetap sadar dalam melihat kondisi lokal. Dari situ mereka merasa semakin termotivasi untuk menciptakan lagu.

Lagu Luka Kita muncul setelah melihat berita di televisi terjadi tsunami di Aceh. Penggalan liriknya seperti ini , “…tunjukkan bahwa kita semua bersaudara, luka mereka luka kita semua. Tunjukkan, tunjukkan oleh kita, derita yang ada derita kita juga.” Luka Kita paling sering dibawakan Marjinal dalam setiap penampilannya, khususnya saat ikut berjuang.

Marjinal memulai pergerakan dari masyarakat yang termarjinalkan. Orientasinya tentu bukan uang tetapi mereka memang sadar dan mau terlibat bersama-sama. Mereka juga tidak pilah-pilih, selagi ada ruang dan mereka mendapatkan akses ke sana, mereka akan melibatkan diri.

Sumbangsih yang Marjinal berikan melalui gerakan propaganda dalam berbagai medium. Biasanya lewat artwork cukil kayu, sablon kaus, stiker, dan tentu dengan lagu. “Lewat gerakan ini, bisa lebih efektif dan setelah itu orang-orang akan cari tahu informasinya,” jelas Bob.

Belakangan ini bentuk fasisme dan rasisme kembali dirasakan Marjinal. Saat ini sedang masif gerakan-gerakan kelompok yang mengatasnamakan agama yang berimplikasi konflik SARA. Apa yang mereka rasakan di tahun 1998 itu sekarang terjadi lagi. Bobby menilai dengan isu SARA ini memang lebih efektif dan murah untuk mengadu domba masyarakat, hanya untuk kepentingan para penguasa akibatnya masyarakat yang terpecah belah.

Bob melanjutkan bahwa yang membentuk situasi seperti ini adalah sebuah sistem yang dibangun oleh pemerintah. “Bagaimana tidak? Pendidikan mahal, masuk TK aja mahal, SD, apalagi mau kuliah,” tegasnya. Ia merasa dengan pendidikan yang mahal seperti ini sehingga sebagian masyarakat akan berpikir untuk mengembalikan biaya yang tadinya dikeluarkan dengan menjadi agen dari sistem itu dan meraup keuntungan.

Dia mencontohkan kejadian yang di Kendeng, dari informasi yang ia dapatkan bahwa beberepa mahasiswa-mahasiswa pertambangan memiliki keterlibatan membantu berlangsungnya pabrik semen di sana.

“Jangan salahkan masyarakat juga pasti ada yang ngebentuk, semua dibentuk oleh sistem sih menurut gue,” tukasnya.

Adanya fenomena politik seperti itu sehingga di tahun 2016 album Anti Fascist and Rascist Action di keluarkan. Berisi sebelas lagu, album ini rekaptulasi dari album pertama sampai ketiga. Lagu-lagu di album tersebut memang kental dengan nuansa anti fasis dan rasisnya.

Beberapa persen penjualan album AFRA diperuntukkan untuk aksi Kendeng, Bali tolak reklamasi, dan pembangungan Masjid di Cirebon. Di tahun ini, Marjinal juga terlibat dalam album kompilasi perangi korupsi bersama beberapa band lainya di Jakarta.

Isu keberagaman juga terus diusung oleh Marjinal dalam berbagai karya. Mereka berharap jika isu ini terus digaungkan, pikiran masyarakat bisa terbuka, sehingga tidak cepat untuk terprovokasi.


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca