× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Azhari

Cerita dedikasi yang tak bertepi.

Pekerja Pemilu
Azhari
Azhari Juanda. Foto: Facebook.

13/05/2020 · 5 Menit Baca

Namanya telah berpijar di mana-mana. Kepemimpinannya telah memberi banyak makna. Di Tidore, Sultan Husain Sjah menyebutkan sosok ini sebagai pelita yang menghidupkan budaya Tidore yang lama terlupa. Lelaki kurus bervisi tebal, ia kepala polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar. Datang di jazirah raja-raja untuk yang pertama kalinya sebagai komandan keamanan di Tidore. Setahun di sana, tatkala kekaguman menerpa jejak langkahnya, ia bergeser ke kota terdekat, Ternate, pada posisi yang sama.

April 2018 tanggal sepuluh, saat Pemilihan Gubernur Maluku Utara mendekati masa coblos, saya berkesempatan bertemu sosok piawai ini. Ini momen penting, meski situasinya tidak sedang genting. Kami bertemu membicarakan kesiapan Pilgub. Di kantor Polisikah? Tidak. Di Kantor Bawaslu? Juga tidak. Awal Bakudapa di Pantai Bobane Ici, Dorpedu. Saya selalu menyimpan kenangan terbaik terhadap kampung ini, belasan tahun lalu saat berstatus mahasiswa, saya mendapat tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Khairun di sini. Di Pantai Bobane Ici itu serpihan cerita masih lekat, berbaur dengan pasir pantai, pisang mulu bebe dan durian nona, dekat situ.

Ah, saya tak ingin larut kedalam kisah itu. Tapi hari itu saya benar-benar bertemu dengan sosok terhormat bernama Azhari Juanda. Tepat di acara sosialisasi pemilihan kepada masyarakat, tokoh-tokoh di Kecamatan Pulau Ternate berdatangan. Mereka memenuhi ruangan di pantai bagus itu. Di situ, saya berbicara sekaligus ikut mencatat untaian kata yang terucap dari mulutnya. Kata-katanya sederhana, mereka yang mendengar tak butuh referensi tingkat tinggi untuk memakluminya. Ia seolah memahami dengan baik situasi kerakyatan, tak sedikit yang terpana. Ada yang eleng, sebab kali ini mereka dengan gampangnya berbaur, berdiskusi dengan Kapolres tanpa sekat kekakuan formalitas. Selesai diskusi semuanya diajak foto bareng, sesuatu yang tak alpa dilakukan di setiap agendanya. Kami menyudahi pertemuan itu dengan hidangan ikan bakar dabu dabu manta berpadu kangkung tumis.

Di kantor Polres Ternate, pintu selalu terbuka menuju ruangannya. Orang-orang dari berbagai kalangan dan latar hinggap di sana. Mereka yang sepuh maupun yang milenial, para imam juga pendeta. Aktifis, jurnalis, anak muda yang pebisnis, gadis-gadis manis maupun lelaki jantan berkumis tebal maupun tipis, semuanya datang tanpa garis pembatas. Orang-orang begitu mudah menyampaikan keluh kesah, mereka tak ragu menuangkan segala gelisah. Berbagi pendapat atau meminta pandangannya sambil menikmati teh hangat atau suguhan-suguhan yang memancar wangi di atas meja ruangannya.

Ia serius mendengar, senantiasa menempatkan semua orang sejajar. Ia tak menjadikan pangkat di pundaknya sebagai sumber segala keangkuhan. Saya merasakan itu pada suatu waktu ketika berkunjung di kantornya. Saya menjanjikan waktu pertemuan, dan seperti biasa, kebiasaan saya yang kurang disiplin itu datang terlambat. Saat tiba di kantor, lelaki ini telah berada di dalam mobilnya. Sopir pribadinya sudah hendak tancap gas, tapi ia menghentikannya. Ia turun dan menerima kami untuk beberapa saat, karena di hari yang sama ada agenda yang mesti dituntaskannya di luar.

Saya menikmati setiap perbincangan dengannya, ia selalu bicara dengan hati. Senyumnya tak henti berkilau. Candaannya selalu yang paling renyah dan bermutu, saya orang yang paling sering membalas candaan-candaan lepasnya. Ia memperlakukan semua orang dengan sama baiknya, saya menyaksikan itu usai bertemunya. Datang seorang Imam dari Ngade, Azhari menyambutnya dengan sangat baik. Ia memperlakukan lelaki berkopiah putih dari Selatan Kota itu seperti ia memperlakukan orang tuanya. Sangat lembut, penuh kehangatan.

Suatu kali ia berceritra tentang kondisi Ternate. Azhari mengungkap kesyukuran sebab gelora hidup nyaman selalu menaungi kehidupan orang Ternate yang penuh dinamika. Dulu kita selalu ingat konflik Tomang (Toboko – Mangga Dua) sebagai konflik yang susah mendapatkan penyelesaiannya. Bertahun-tahun segala upaya sulit memadamkan api di antara perseteruan dua kampung itu. Orang-orang menyebut jalur perkelahian di dua kampung itu sebagai jalur gaza, meski tak ada yang menyebutkan permusuhan keduanya seperti Barcelona dan Real Madrid dalam el clasico.

Di masa Azhari segala ceritra baku pukul deng lempar batu itu hilang dari angkasa. Saat tragedi, ia datang langsung di arena. Di sana ia berbicara dengan hati, ia melakukan apa yang orang Ternate sebut sebagai Tara no Ate, ia tiba di sana dan merangkul segala pihak, menyelami kedalam sumber masalah lalu dengan karakternya yang problem solver muncul sebagai jalan keluar. Ia berkisah tentang itu, dan ketika kata-katanya menyusuri jeda, saya maso tenga. Di hadapannya saya katakan, kenapa orang-orang tak berani membikin pelanggaran atau tindakan yang merusak kenyamanan, sebab mereka telah “malu hati” pada pemimpinnya, kepada Kapolresnya.

Betapa tidak, pemimpin dan pengendali keamanan di Ternate itu melakukan segala langkah yang tak dilakukan pendahulunya. Ia bekerja tanpa henti mengunjungi banyak tempat, ia dengan senang hati datang memenuhi undangan berbagai komunitas, ia hadir di gereja mengabarkan kisah kebaikan, ia datang di masjid dan mushala menyerahkan diri pada Tuhannya sekaligus menabur kata-kata mencerahkan, kata-kata baik yang menyegarkan pikiran banyak orang. Ia bahkan rutin dalam gerakan Suling (Subuh Keliling) meraup keberkahan dengan berbagi inspirasi dari kampung ke kampung. Azhari juga konsisten menumbuhkan spirit Gamalama (Gerakan Memberantas Narkoba dan Miras), upaya besar untuk menyingkirkan sumber penyakit yang menodai wajah peradaban.

Azhari Juanda berdiri sebagai sosok yang menjaga konsistensi. Ia tak berhenti pada kata-kata yang menggelorakan motivasi, tapi ia hadir dalam banyak ragam aksi dan tunai bakti. Saya ingat konsistensinya bersama jajaran sentra Gakkumdu pada Pilgub 2018 saat kami dengan lugas menuntaskan penegakan hukum terhadap kasus politik uang yang menjadi ancaman terbesar demokrasi kita. Pengadilan Negeri saat itu memvonis bersalah dua pelaku politik uang karena praktek yang mereka lakoni.

Di Pemilu 2019, peran Azhari untuk membikin jalan sukses Pemilu paling ribet dalam sejarah Pemilu Republik ini menjadi kian mulus. Ia tak henti mengingatkan seluruh penyelenggara Pemilu agar teguh dan kokoh dalam menjaga integritas. Katanya, integritas adalah harga diri yang bila dirawat akan memuliakan kehormatan tiap-tiap diri. Sebelas hari jelang coblos Pemilu, Azhari mengumpulkan ratusan tokoh dari banyak kalangan bersinergi dalam Silaturahmi Kamtibmas Jelang Pemilu.

Saya hadir di sana, di Aula kantor Wali Kota itu mendapati keramaian juga ketenangan, Ia memberi panggung kepada kami yang penyelenggara (Bawaslu dan KPU) untuk berbicara. Di tempat itu pula, Ketua MUI Usman Muhammad mengingatkan kami dengan kata-katanya yang menebalkan keyakinan “Tiada Rusuh, Jika tak ada Ruci”. Semua elemen yang hadir menjalin sepakat, menandatangani nota sinergi untuk menjaga Pemilu Bermartabat, Kedamaian dan Kenyamanan di Ternate.

Lalu di masa pandemi ini perannya begitu super. Di Ternate, orang angkat topi dan kopiah penghormatan tidak hanya terhadap dokter dan perawat, tetapi juga terhadap polisi. Polisi di sini jarang tidur, mereka meleburkan dedikasi yang tak bertepi. Komandan Azhari mempelopori gerakan penyadaran memutus mata rantai penularan. Ia konsisten memimpin gerakam melawan wabah dengan langkah-langkah dari berbagai arah. Segenap malamnya dilewati dengan patroli bersama Satpol PP memastikan rakyat tertib dan patuh jaga jarak. Ia tak lelah datang menemui rakyat yang terbelit susah, berbagi paket bantuan dengan berkolaborasi dengan banyak elemen , di antaranya LSM Rorano dan media pers. Mengajari mereka cara sederhana membuat masker untuk melindungi diri masing-masing.

Ia hadir di antara segenap tindakan kemanusiaan. Ia benar-benar menjadi rastra sewakottama atau pelayan terbaik rakyat sebagaimana moto yang tertera di topi kehormatannya. Azhari sungguh telah membawa kita pada sebuah kenangan terbaik yang terus menghidupi di sepenuh dada kita bahwa di sini, di Ternate pernah ada seorang komandan polisi yang begitu dekat dengan rakyatnya, ia berintegritas, ia motivator ulung dan penuh dedikasi. Sesuatu yang mungkin tak pernah sirna meski sebentar lagi ia kan pergi meninggalkan kota ini menuju emban amanah baru di Yogyakarta.

Selamat Komandan Azhari..!.


Share Tulisan Rusly Saraha


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca