× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

A

Jejak polisi di dua daerah kesultanan.

Direktur LSM RORANO
A
Bersama AKBP Azhari Juanda saat bertugas di Ternate

16/05/2020 · 15 Menit Baca

Suatu hari awal 1995. Belasan anak muda berambut cepak dengan seragam lengkap datang ke sekolah SMA Negeri 5 Bengkulu. Wajah mereka sumringah. Ada kebanggaan menggurat tegas. Mereka adalah calon perwira yang tengah digodok di akademi militer. Mata  A - sebuah nama pendek yang tak biasa - menatap dengan kagum. Tubuhnya yang kurus jadi kontras dengan tetamu yang datang. Tapi dadanya bergemuruh. Saat tetamu bercerita tentang akademi tempat para perwira angkatan bersenjata itu berlatih, A langsung jatuh hati. Tapi mungkinkah anak petani miskin ini bisa masuk Akabri?. Manusia ada untuk dirumuskan. Masa depan sama dengan menghitung peluang.

Setiap orang punya masa kecil - biasanya jadi pedestal awal kehidupan. Di sana kenangan dan ingatan saling susul. Kenangan bisa sporadis muncul berbagi ruang tanpa batas, menabrak sana sini, didesain untuk kesenangan. Sementara ingatan mudah ditata. Tersimpan dalam memori dengan nama “masa lalu”. Dengan itu, A mengingat masa lalunya yang tak mewah. Ingatan yang selalu dipeluk sebagai penanda jika Ia anak desa yang tumbuh dengan kerja keras. Ia menyiapkan kandil masa depannya sendiri dengan belajar. “Fokus saya sejak kecil hanya belajar dan belajar. Agar punya nilai bagus dan bisa melanjutkan ke sekolah yang gratis. Saya tak menikmati masa muda”, kenang A.

A, adalah anak ketiga pasangan Ibnu Hajar dan Fatimah. Anak lelaki tertua dari sembilan bersaudara ini lahir di bulan sakral. 15 Agustus 1976 di sebuah desa kecil. Namanya Embung Ijuk. Nyaris tak terbaca karena ada di tepi kecamatan Keban Agung kabupaten Kepahiang. Desa ini terpencil jauh di punggung pegunungan. Kebun kopi melingkar bersama udara dingin. Ayahnya punya sebidang kebun kopi. Dari sanalah keluarga mereka bergantung periuk. Sadar masa depan anak-anaknya harus lebih baik dari sekedar memetik kopi, Ibnu Hajar, lelaki sederhana yang supel dan banyak canda itu memilih pindah ke ibu kota provinsi. Boyonganlah A, bersama keluarganya.

Merantau ke Bengkulu bukan perkara mudah. Ibukota ternyata tak ramah bagi pendatang dari desa. Sambil menunggu panen kopi tahunan, ayahnya bekerja membuka ladang di lahan milik orang. A, ikutan mencangkul, menyemai bibit dan mencari pupuk. Saat tanaman sayur mayur itu dipanen, A ikutan membawanya ke pasar untuk dijual. Kerja ini membantu dapur mereka mengepul setiap hari. “Saya ikutan membungkus kerupuk, jualan pisang goreng, es batu keliling. Untuk nambah biaya sekolah”, cerita A. Setiap minggu, Ia ke rumah gurunya - pak Saiful - untuk menyetrika baju. Guru Saiful yang membayar uang sekolah A, saat SMA. Sekolah baginya adalah prioritas pertama.

Mahatma Gandhi, tokoh India yang terkenal itu pernah menyebarkan sebuah nilai hidup yang bisa jadi menginspirasi A, dalam menapaki hidupnya. “Hidup di tingkat bawah, tapi pikiran di tingkat tinggi”. Karena itu, diantara jepitan hidup yang tak sublim, Ia bercita cita besar jadi Insinyur Pertanian. Lalu saat kelas 2 SMA, pikirannya berubah; ingin masuk STPDN. Mengejar sekolah gratis yang dibayar negara. Namun jalan hidup tak selamanya lurus mengikuti kehendak. Ada kalanya menikung tajam. Saat lulus SMA, ketekunan belajar membuat A diterima  tanpa tes di IPB Bogor. Tetapi kekagumannya pada polisi membuatnya berbelok langkah. Ia nekat ikut tes Akabri dan diterima sebagai taruna pada Akademi Kepolisian di tahun 1995.

Polisi bagi A, adalah profesi yang dirindukan. Ia suka melihat polisi yang bertugas dan melayani. Punya dua wajah. Santun saat mendampingi masyarakat, membantu menghadapi berbagai macam masalah, bekerja bersama namun saat menegakkan hukum, polisi berubah jadi tegas. Baginya, polisi ibarat “rumah” sebagaimana Ia besar dan dekat dengan Ibu yang penuh cinta dan digembleng karakternya agar tegas oleh ayahnya. “Dulu saya mengira polisi itu profesi. Ternyata polisi itu adalah jiwa”. Jiwa penuh kebaikan. Perkara berbuat baik ini bukan sekedar kata mutiara. Ia harus menjinakkan apa yang disebut Jacques Lacan sebagai “bayang-bayang ego yang bergerak terus”.

Karena itu, saat lulus Akabri tahun 1998, A, patuh saat menjalani tugas sebagai polisi yang menjaga kedaulatan laut. Bisa dibayangkan bagaimana adaptasi hidup dari seorang anak petani menjadi pelaut. Tapi masa lalunya yang keras seperti menyiapkan A, untuk terus berkembang. Sebagai komandan kapal, Ia berpatroli ke mana saja termasuk mampir ke Pontianak. Di kota inilah cinta A bertaut pada seorang perempuan sederhana yang bekerja di sebuah bank swasta. Semuanya berjalan cepat. Tak sampai seminggu A, langsung “menembak” pujaan hatinya. Saya membayangkan mungkin rayuan A, mengikuti senandung Siti Nurhaliza, biduan negeri jiran yang jadi idoalnya. Cintaku bukan di atas kertas. Cintaku getaran yang sama.

Sayangnya tugas sebagai Bhayangkara sejati membuatnya tak bisa berlama-lama bersama sang kekasih. Mereka berpisah. Tiga bulan menjalin cinta jarak jauh lintas pulau, A, langsung melamar. Tiga bulan berikutnya resmilah Nani Arfiah jadi isteri polisi. Keluarga kecil ini makin bahagia saat dikarunia satu putera - Athallah Zhafirazky Nabiha. Lalu mulailah Nani dan putera kesayangan mereka ikutan  mendampingi A bertugas kemana mana. Ikut ke Jakarta lalu ditinggal karena A harus bertugas ke Surabaya. Hingga perjalanan karir A membawa  mereka ke Tidore. Tanah “asing” yang hanya terbaca dalam sejarah kebesaran Nuku.

Di Tidore, karakter anak petani membuatnya mudah diterima. Ia rajin bersilaturahmi. Bertemu siapa saja. Sebagai Kepala Polisi, Ia melepas batas. Ia sadar tak bisa sendiri. Menjadi pemimpin adalah nomina. Dalam kesendirian kadang muncul yang  gamang. Karena itu, butuh keikhlasan yang universal. Butuh percakapan-percakapan yang saling menguatkan. Empatinya tak berbatas. A, konsisten menjaga integritas dan aksi nyata sebagai polisi yang melayani. Tangannya mudah terulur membantu warga yang kesulitan. Sultan Tidore Husain Syah bahkan menganggapnya sebagai saudara sendiri. “Saya bangga dan bersyukur karena mendapat teman dan saudara yang baik. Punya dedikasi tinggi atas kepercayaan yang disematkan di pundaknya. Beliau sangat rendah hati dan memiliki empati yang tinggi atas berbagai persoalan yang menimpa rakyat kecil”. kata Sultan.

Setahun bertugas di Tidore, A kemudian berpindah ke Ternate - seolah takdir memutus tapak karir A, berkelindan di dua daerah Kesultanan. Di Kota pulau yang mengelilingi gunung Gamalama ini, jejaknya berserakan dimana-mana. Ia ada dimana-mana. Saat demonstrasi mahasiswa, saat rusuh antar kampung, saat lindu berderak, saat subuh keliling, saat magrib mengajak, saat ibadah di gereja-gereja itu, saat melawan miras dan narkoba dengan gerakan gamalamanya (gerakan memberantas narkoba dan miras). Setiap saat seolah tak ada jeda. “Berbuat baiklah kepada siapapun, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun dan dengan cara apapun”. Dengan prinsip ini A membuat banyak orang jatuh cinta padanya.

Saya mengenalnya dalam sebuah acara alumni di salah satu sekolah di Ternate. A memberikan materi tentang kamtibmas. Gayanya supel. Bicaranya terstruktur. Saya memotretnya dengan ponsel saat dirinya tersenyum di acara itu. Potret pertamanya yang jadi penanda pertemanan kami. Di banyak kegiatan, tetiba ia berubah jadi motivator. Banyak hal baik dibagikan. Perkara memberi motivasi ini pula yang membuatnya sangat dekat dengan banyak anak muda potensial di Ternate. A, berteman dengan siapa saja. Hadir di banyak ruang diskusi. Sesekali ia tampil casual menyanyi di beberapa tempat nongkrong. Tak terhitung banyaknya warga yang datang berkunjung ke ruangannya. Markas polisi yang dulunya angker mandadak jadi tempat berlindung yang damai. Mereka yang datang itu mengadu, mengeluhkan hidup, curhat sana sini. A, mendengarnya dengan antusias. Lalu memberi solusi. Mengusir masalah.

Sejak coronavirus ditetapkan sebagai darurat nasional, banyak sekali flyer dan video himbauannya beredar. Tak sekedar lancung di dunia maya. A sangat eksis berpatroli rutin. Siang dan malam lulusan Akpol 1998 ini ada di jalanan bersama anak buahnya. Ia tak hanya sekedar bicara tapi juga berbuat. Sebagaimana integritas itu adalah cermin yang membentuk pola pikir, perkataan, perilaku dan tindakan dalam sebuah pantulan yang utuh. A tak sungkan mendatangi warga tak mampu sambil menenteng sendiri paket sembako. Mengetuk pintu-pintu kosan mahasiswa yang tak bisa pulang kampung karena pandemi sambil berbagi bantuan. Nyaris setiap jengkal Ternate Ia datangi dengan senyum mengembang.

Di beberapa kesempatan, saya mendampinginya dari dekat. Figurnya mempesona. Ia tak butuh formalitas yang kaku. Kami berdua banyak sekali terlibat dalam diskusi-diskusi solutif. Ada kalanya diskusi itu bermula saat dinihari ketika dirinya balik kantor setelah berkeliling kota. Ia pendengar yang baik. Terbuka menerima banyak saran dan kritik. Visinya jauh ke depan. Tak hanya bicara, Ia turun bekerja memberi contoh. Ia dikagumi dengan sadar oleh banyak orang. Dihormati dengan cinta oleh anak buahnya. Karena itu, akan banyak yang kehilangan ketika dirinya berpindah sebagai wakil kepala polisi penjaga kedaulatan laut di sebuah daerah kesultanan - ketiga: Jogjakarta.

Bagi saya, A adalah panggung kemanusiaan yang mewariskan banyak legacy. Ia polisi yang bekerja dalam kemuliaan. Usia saya lebih tua darinya tapi saya memanggilnya "abang". sebuah sapaan tanda hormat. Dirinya ibarat matahari yang di setiap kemunculannya pasti berbagi cahaya. Konsisten memberi hidup meski orang ramai tak menghitung seberapa banyak matahari itu ada bersama mereka seturut usia yang bertambah. Matahari  tak banyak disambut saat terbit, kadang tertutup kabut, disingkirkan hujan tapi ia selalu hadir setiap pagi. Ia menolak untuk tak melayani. Sebagaimana matahari itu, saya ingin terus mengingat sosok A - nama kecil panggilan keluarga untuk  Azhari Juanda.  


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca