× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#POLITIK

Deklarasi Kehormatan di Soa-Sio

Sebab Pemilu Tempat Berpestanya Uang Palsu - Iwan Fals
Deklarasi Kehormatan di Soa-Sio
ilustrasi : sumber google

13/07/2020 · 3 Menit Baca

Tahun 2004, Iwan Fals mengekspresikan kegaduhan politik lewat lagunya yang berjudul “Politik Uang”. Dalam lirik disebutkan bahwa dalam politik, yang akan menang adalah yang punya uang. Sebab, Pemilu tempat berpestanya uang palsu. Lagu ini menegasyikan, bahwa kekuasaan sangat akrab dengan perputaran uang, kapitalisasi kebebasan rakyat, kemunduran demokraksi, hingga sederet kejahatan pemilihan lainya. Tergantung siapa yang memaknai lagunya.

Setidaknya, itu yang terekam dalam catatan Pemilu sebelumnya di Kota Ternate (Pemilu 2019). Kala itu, Bawaslu Kota Ternate melakukan penindakan terhadap banyak sekali pelanggaran mulai dari pelanggaran kode etik, penyelenggara Pemilu, pelanggaran administrasi Pemilu, pelanggaran pidana Pemilu, dan pelanggaran hukum lainya. Bahkan, pada puncak penindakan di tahun 2018, terdapat dua oknum warga yang divonis majelis hakim di Pengadilan Negeri Ternate sebagai pelaku yang terbukti bersalah karena telah melakukan politik transaksional (Money Politic). Keduanya akihrnya dijebloskan ke dalam jeruji besi.

Pembenaran mengenai kritik Iwan Fals itu juga tercermin dalam buku yang disusun Hendra Kasim. Menurut dia, proses politik yang mahal akan berdampak pada kebutuhan biaya yang fantastis. Sebab itu, bukanlah tidak mungkin dalam satu periode kepemimpinan berlaku hukum ekonomi. Suplay and demand, profit and loss. Sementara bagi peserta pemilu yang hanya memiliki popularitas dan elektabilitas minim ‘Isi Tas’. Sudah tentu membangun kongsi dengan pemodal. Kongsi inilah yang akan mendorong proses demokrasi menjadi industri demokrasi. (Hendra Kasim - Catatan Penegakan Hukum Pemilu Pada Pemilu Tahun 2019 di Kota Ternate. Hlm. 194).

Tiga paragraf tulisan pembuka ini barangkali bagi sebagian pembaca akan menilai terlalu subjektif. Tetapi saya meyakini satu hal. Bahwa, di setiap kisah buruk pasti ada upaya perbaikan. Dan karena itu, tulisan ini diberi tajuk ‘Deklarasi Kehormatan di Soa-Sio’.  

Pertama, saya akan mulai dengan istilah pencegahan. Kata pencegahan dengan segala derivasinya merupakan satu upaya preventif yang dilakukan untuk menghindari potensi pelanggaran yang akan terjadi. Dalam wilayah politik, tentu saya akan lebih berkonsentrasi pada lokus partisipasi masyarakat dalam mengawal agenda demokrasi, juga peran Bawaslu Kota Ternate sebagai lembaga yang concern mengawasi tahapan Pilkada.

Di Ternate, Kifli Sahlan, Rusly Saraha, dan Sulfi Majid dan jajaran Pengawas Pemilu di tingkat Kecamatan sudah menunjukan kerja-kerja yang menurut saya menunjukkan kualitas sebagai penyelenggara. Bahkan, terkadang di antara mereka ada yang terpaksa meneguk kopi tanpa gula, hanya untuk menghilangkan rasa kantuk kala mereka bekerja. Itu saya temukan beberapa bulan terakhir menjelang Pilkada serentak tahun 2020. Kegigihan ini saya anggap sebagai upaya mereka memastikan kualitas dan nilai demokrasi di Ternate supaya lebih baik lagi.

Dan sebagai pengakuan kepada publik, saya membuat satu kesimpulan [maaf, ini pendapat saya, boleh dikoreksi] bahwa dengan segala keterbatasan harus juga diakui salah satu penyebab pelanggaran pemilu masih terjadi di mana-mana karena kuantitas anggota pengawas Pemilu yang masih terbatas. Angkanya bahkan tidak sebanding dengan kuantitas jajaran ad-hoc di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Ternate.

Tidaklah mengherankan jika ada seruan dari kelompok masyarakat tercerahkan (aufklarung) agar catur kali ini dimainkan dengan cara-cara yang beradab, penuh moral, dan bermartabat. yang saya maksudkan adalah sejumlah warga di Kelurahan Soa-Sio Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate yang pada Minggu (12/7/2020) pukul 21.20 WIT ramai-ramai menghadiri acara lounching Kelurahan Soa-Sio sebagai Kampung Pemilihan Bermartabat (Kaliber) dengan tetap patuh pada protokol kesehatan yang berlaku.

Tidak hanya me-lounching Kelurahan Soa-Sio sebagai Kaliber, mereka juga mendeklarasikan dukungan partisipasi mewujudkan Kampung Pemilihan Bermartabat atau Kaliber di Aula Kantor Lurah Soa-Sio. Ikrar yang dibacakan itu sekaligus meneguhkan niat warga Soa-Sio untuk meningkatkan kualitas demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat di Kota Ternate, dengan mewujudkan kesadaran masyarakat sebagai pemilih, menolak money politik, politisasi SARA, ujaran kebencian, dan hoaks serta mendukung pelaksanaan pengawasan pemilihan yang bermartabat menjelang pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ternate tahun 2020.

  1. Kami senantiasa merawat silaturahmi dan persaudaraan diantara sesama warga meski berbeda pilihan.
  2. Tolak dan lawan praktek politik uang karena merusak harga diri pemilih dan martabat negeri.
  3. Tidak menyebarkan berita hoax dan ujaran kebencian yang mengganggu kenyamanan masyarakat.
  4. Menjaga integritas penyelenggaraan Pilkada dari praktek manipulasi dan kecurangan.
  5. Bergandeng tangan bersama Bawaslu dan Panwaslu mewujudkan pemilihan yang bermartabat.

Pekik suara deklarasi ini bahkan terdengar sampai ke jalan, depan kantor Lurah Soa-Sio. Sedangkan di dalam kantor Lurah, ada juga Anggota Bawaslu Kota Ternate, Kapolres Ternate, Camat Ternate Utara, Panwaslu Kecamatan Ternate Utara, Lurah Soa-Sio, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, dan Tokoh Pemuda.

Salah satu Tokoh Masyarakat Kelurahan Soa-Sio, H. Sampena H. Yusuf saat didaulat untuk memberikan sambutan menegaskan bahwa Pilkada bukan hanya menjadi tanggung jawab KPU, Bawaslu, Pemerintah Kota dan Polres Ternate, tetapi Pilkada akan menjadi tanggung jawab masyarakat. “Kenapa? Karena kita akan memilih calon pemimpin kita, apa yang kita inginkan, seperti apa seharusnya pemimpin yang akan memimpin kita, saya berharap ini menjadi bekal buat kita semua,” ucapnya.

Sebab tidak mungkin sistem demokrasi melalui jalur Pilkada memiliki kualitas yang baik jika tidak ada keterlibatan secara partisipatif dari masyarakat. “Kita mesti membantu Bawaslu dan KPU mensosialisasikan kepada sesama masayrakat tentang cara berpolitik yang bermartabat. Sehingga tidak ada masyarakat yang tidak bisa mencoblos, atau ada masyarakat yang terlibat dalam kasus politik uang, harus ada upaya menghindari hal itu, tunjukan bahwa kita benar-benar memiliki martabat,” katanya.

Mendengar sambutan itu, Kapolres Ternate, AKBP. Aditya Laksimada S.I.K menjadi lebih bersemangat. Menurutnya, bermartabat dalam dalam akronim ‘Kaliber’ memiliki arti kehormatan atau dalam segala dimensi yang dilakukan harus berbasis pada sifat-sifat mulia. Kelurahan Soa-Sio, bagi dia, sudah seharunya menjadi panutan atau pemberi inspirasi (role model ) sebagai kampung bermartabat dalam pelaksanaan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 di Kota Ternate. Kapolres berharap, masayrakat di Kelurahan Soa-Sio bisa membantu aparat kemanan dan penyelenggara serta pengawal Pemilu menciptakan iklim politik yang kondusif.

Di tempat berbeda, anggota Bawaslu Kota Ternate yang membidangi Divisi PHL, Rusly Saraha meminta masayrakat yang baru saja mendeklarasikan Kelurahan Soa-Sio sebagai Kampung Pemilhan Bermartabat (Kaliber) agar bersinergi mendorong penyelenggaraan pemilihan bermartabat dengan sikap saling menghargai pilihan, melawan politik uang, politisasi SARA dan jaminan Pemilu tanpa manipulasi dan kecurangan.

Sementara Ketua Bawaslu Kota Ternate, Kifli Sahlan mengunkapkan bahwa Kaliber dalam bahasa local memiliki arti ‘Sebuah Kekuatan’. Ia berharap ada kekuatan besar secara partisipatif dari masyarakat untuk mengawasi dan mengawal proses Pilkada serentak tahun 2020 ini. Kifli juga mengaku, Bawaslu Kota Ternate memiliki ambisi besar mempromosikan Kelurahan-Kelurahan yang dijadikan sebagai Kaliber ini ke tingkat Nasional. (**)


Share Tulisan Nasarudin Amin


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca