× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Bagaimana Sapardi Mengubah Kita

Kemarin kita membincangkannya. Hari ini kita mengenangnya.
Bagaimana Sapardi Mengubah Kita
Dokumentasi pribadi dari buku Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni.

19/07/2020 · 3 Menit Baca

Kabar itu datang pagi ini, saat burung-burung mungil baru saja mengucapkan selamat pagi, ketika para ibu selesai menyalakan api dan kala lelaki tabah bersiap memanen harapan mereka[1]. Ia meninggalkan kita di kala wabah masih mengintai, kita yang mencintainya tak diperbolehkan mengiringi.

Sapardi berpulang.

Kesedihan menyeruak dan berbondong-bondong di beranda maya, tokoh dari segala ruang hadir di akun media sosial mereka: WhatsApp, Facebook, Instagram, berbelasungkawa. Puisi-puisi Sapardi muncul silih berselang.

Kemarin kita membincangkannya. Hari ini kita mengenangnya.

Sapardi bisa jadi dikenal oleh semua pelajar di kota-kota besar, diidolakan mahasiswa di ibukota, tetapi ia tetap asing bagi kami di tempat-tempat terpencil negeri ini, bahkan ketika internet telah lebih bersahabat, menyapa kami di kafe dan di telepon genggam buatan Tiongkok.

Saya pernah berkesempatan membahas puisi dalam Sastra Indonesia bersama guru-guru SMA dalam sebuah acara di salah satu kabupaten di daerah saya, memilih nama Sapardi Djoko Damono untuk memantik diskusi, dengan perkiraan semua peserta pasti mengenalnya. Sayang sekali saya tidak berhasil. Sorot mata mereka menampakkan kebingungan nyata mengenai nama yang saya sebutkan. Lalu, ketika saya mulai membacakan bait-bait puisi Aku Ingin, mereka baru terpukau-tentu bukan karena saya yang membacakannya, melainkan karena kebersahajaan kata-kata dalam puisi itu.

Puisi Aku Ingin ternyata dulu pernah “hanya” numpang lewat di satu semester pengajaran-salah seorang peserta menyeletuk. Bagi generasi yang hidup di masa yang serba gegas, puisi itu kemudian tertimbun peristiwa yang lebih menggegerkan. Puisi berhenti di situ, sekadar hiburan, bukan sebagai ruang untuk memaknai kehidupan, mendalami arti cinta, juga kematian, apalagi pembunuhan seorang buruh pabrik arloji [2]. Padahal, membincangkan puisi bisa berarti membincangkan betapa fananya makhluk bernama manusia, sekaligus bisa setega apa dia.

Sastra masih tak berhasil akrab dengan mereka yang hanya mau berdiri di luar sastra, yang memandangnya sebagai sesuatu yang picisan. Bagi banyak pihak, sastra sekadar bentuk ekspresi seni, arena bermain-main, area menaklukkan pujaan hati dengan sebait puisi yang dicongkel dari Google.

Sapardi barangkali tak pernah berhitung, berapa banyak jiwa kering yang telah ia basuh dengan kata-kata dari puisinya. Berapa banyak orang yang ia ubah hidupnya, berapa banyak orang yang tak jadi bunuh diri setelah membaca karya-karyanya.  Bagaimana kemudian banyak pemuda dan pemudi hendak menjadi penyair setelah membaca Hujan Bulan Juni atau bahkan mendengar puisi Di Restoran yang dimusikalisasi Ari-Reda, atau menyimak puisi Selamat Pagi Indonesia yang dibacakan Maudi Ayunda.

Namun, saya yakin, beliau paham benar bagaimana orang-orang menjadi baik, bagaimana puisi bisa membasuh bersih prasangka.

Sapardi berpulang.

Di setiap perjumpaan, ketika ia diberi kesempatan menjadi pembicara-dengan topi dan jaketnya, ia selalu kelihatan sangat menghargai yang hadir di sana, berusaha berdiri bahkan di usianya yang hampir habis. Kentara sekali, ia berkarya karena kecintaannya pada sastra, sesuatu yang bisa memperhalus budi pekerti, sesuatu yang dapat menggugah nurani.

Saya teringat sepenggal sajaknya yang lain:

Di antara hari buruk dan dunia maya,

kita pun kembali mengenalnya

Kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata

Saat-saat yang lama hilang dalam igauan manusia [3]

Puisi yang berjudul Kita Saksikan itu, beliau tulis pada tahun 1967, masa ketika dunia belum seriuh seperti sekarang, bukan hari-hari ini, ketika kehidupan budaya dan sastra kita terlalu dini memakamkan banyak hal: perasaan malu, akal sehat, maskulinitas, feminitas, masa kecil, selera bagus, dan literasi-saya meminjam kata Tom Nichols dalam “Matinya Kepakaran.” Masa yang sama ketika semua orang merasa bisa menjadi penyair tanpa kemampuan mumpuni mengendapkan pengalaman dalam hidup yang kadang getir dan tak adil bagi rakyat kecil.

Saya sungguh percaya, puisi mampu mengubah seseorang. Mari mendengar pendapat Harari dalam Sapiens, “Manusia muncul dari rahim bagaikan gelas meleleh dari dalam tungku. Manusia bisa dipelintir, direntangkan dan dibentuk dengan kebebasan yang mengejutkan.” Puisi mampu melakukan itu. Manusia adalah makhluk yang gampang teperdaya, mudah terpukau oleh sesuatu yang indah, apalagi jika keindahan itu datang dari hati. Harari juga memaparkan panjang lebar, bagaimana bahasa kita berevolusi dengan bergosip. Jika saya suatu hari diberi kesempatan bertemu dengan Harari, saya akan berkata kepadanya bahwa bahasa kita juga berevolusi dalam puisi.  

Bagi yang akrab dengan puisi, frase binatang jalang, tentu akan mengingatkan mereka pada Chairil. Ketika saya menyebut lelaki tanpa celana, Anda bisa jadi teringat pada Joko Pinurbo, dan kini, ketika mengingat New York, kita bisa jadi mengingat M. Aan Mansyur dan AADC, atau Njanji Soenji pada Amir Hamzah, sebagaimana frasa Hujan Bulan Juni akan mengingatkan kita pada Sapardi. Frase-frase itu bagai ingatan yang berlompatan keluar dari hipokampus ketika kita melihat benda-benda yang ada di rumah, bagaimana sejarah televisi atau hiasan dinding  yang berada di ruang tamu kita, misalnya. Frase itu mengingatkan kita pada penyairnya.

Sapardi berpulang.

Lelaki tua itu mati hari ini, lelaki yang sama yang selalu tak lupa mengingatkan kita untuk tidak mengakrabi sastra hanya untuk memburu kisah, untuk tidak tengadah pada matahari. Ia juga tak bosan mengatakan bahwa bumi tak pernah membeda-bedakan [4].

 

1,  Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Selamat Pagi Indonesia

2,  Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Dongeng Marsinah

3,  Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Kita Saksikan

4,  Puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati dan Di Pemakaman.


Share Tulisan Darmawati Majid


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca