× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Haji Salahuddin

Pejuang Halmahera Tengah yang terlupakan.

Pecinta Sastra
Haji Salahuddin
Galery Pribadi.

22/07/2020 · 5 Menit Baca

Dalam lembaran sejarah perjuangan rakyat, masih kita dapati tokoh-tokoh pejuang yang terlupakan. Di Maluku (Utara), khususnya di Halmahera Tengah, seorang pejuang pribumi yang namanya telah dilupakan, dahulunya tebing tembok tanjung Nglopopo dan rimba Halmahera mengukir namanya, ia adalah Haji Salahuddin. 

Perjuangannya melawan Belanda tak bisa diragukan lagi. Pria berkelahiran Desa Gemia, Patani 1874 (Adnan Amal, 2010), yang di tahun 1928 masuk organisasi SI-Merah (Serikat Islam Merah) dan juga turut dalam pemberontakan PKI namun lolos ketika akan ditangkap oleh pemerintahan Belanda. Pada  tahun 1938 ia bergabung dengan PSII dan duduk dalam kepengurusan Gabungan Politik Indonesia (GAPI) bersama M. Arsyad Hanafi, M.S. Djahir, A.S. Bachmid dan lainya. Namun beberapa tahun kemudian Haji Salahuddin ditangkap karena aktivitas politiknya dan ia dipenjarakan di Nusakambangan.

Lalu pada tahun 1941, Haji Salahuddin dipindahkan ke Boven Digoel, Papua dan di masa pendudukan Jepang di tahun 1942 ia dibebaskan. Dan memilih sementara waktu menetap di Sorong. Kemudian di tahun 1946 ia pindah ke pulau Gebe kemudian ke Patani, wilayah Halmahera Tengah sekarang.

Semasih di Pulau Gebe, Haji Salahuddin mendirikan organisasi keagamaan yang dinamakan Sarikat Jamiatul Iman Wal Islam. Namun para pengikutnya di pulau Gebe dan Patani lebih mengenal organisasi itu dengan Sarikat Islam (SI). Tujuan dari perjuangan SI jilid duanya itu adalah mempertahankan agama Islam dan Negara Republik Indonesia. 

Di masa setelah Haji Salahuddin menetap di Patani, Halmahera Tengah. Perjuangannya untuk Republik Indonesia lebih masif dan lebih progresif. Tugas paling pertama SI jilid duanya di masa itu adalah menyebarluaskan cita-cita Proklamasi RI, meski sudah sejak awal ia lakukan di Raja Ampat (Adnan Amal, 2010). 

Berbagai desa di pulau Gebe dan desa-desa di Halmahera Tengah berbondong-bondong untuk turut menjadi pengikutnya dan berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Hingga akhir bulan Januari di tahun 1947 anggota SI telah mencapai 3000 orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dan yang terkenal berani dalam anggotanya adalah kaum perempuan, diantaranya ada Ibu Abdul Gafur (Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga semasa pemerintahan Soeharto) yakni ibu Hajjah Aisah. 

Karena melihat begitu banyak pengikutnya, Haji Salahuddin memerintahkan seluruh pengikutnya untuk mempersenjatai diri, ia pun membentuk sayap militer yang dipimpin oleh wakil ketua SI, Khadi Patani Abdul Hadi. Pimpinan sayap militer itu kemudian merekrut pandai besi yang ada di Patani, kemudian pandai besi itu berkerja siang dan malam lalu menghasilkan 600 senjata tradisional yang siap digunakan.

Haji Salahuddin dengan pengalaman politik pergerakannya di masa Sarikat Islam Merah telah mengetahui jelas bagaimana kelicikan Belanda, maka dengan mempersenjatai rakyat adalah solusi yang progresif. Ia tahu bahwa Belanda tidak akan tinggal diam dengan gerakannya, Belanda yang sudah terdesak dengan Fasisme Jepang yang beraliansi dengan Fasisme-Rasisme Hitler dan penekan akan cita-cita kemerdekaan Indonesia, tentunya akan melakukan segala upaya untuk memberanguskan gerakan politik Haji Salahuddin. 

Terbukti Belanda melakukan propaganda untuk menyudutkan Haji Salahuddin, dengan menuduh gerakan SI jilid duanya adalah gerakan Mesianisme atau gerakan politik berjubah Islam fanatik, bahwa SI adalah sebuah gerakan ke-agamaan yang menyimpang dari ajaran dan kebiasaan agama Islam. Namun propaganda pemerintahan Belanda tersebut tidak bisa menghentikan gerakan Haji Salahuddin yang semakin luas ke berbagai pelosok di Maluku.

Tidak cukup dengan propaganda, Belanda melakukan upaya penangkapan Haji Salahuddin pada 14 Februari 1947, dikirimnya plenton polisi langsung dari HPB (Hoofd van Plaatselijk Bestuur: Kepala Pemerintahan Setempat) di Weda ke Patani dengan sebuah landing boat dengan jumlah anggota polisi sebanyak 15 orang yang dipimpin seorang pembantu inspektur bernama Paparang. Mereka tiba di waktu malam dan menurunkan plenton tersebut beberapa kilometer dari Patani. 

Di pagi buta usai salat Subuh, jamaah masjid mendengar rentetan tembakan senjata api, warga Patani yang beberapa puluh laki-laki keluar dan melakukan perlawanan, namun pertempuran pagi buta itu sungguh tidak seimbang. Akhirnya kaum perempuan sebanyak 600 orang menyerbu pasukan polisi dengan senjata tradisional, karena pasukan perempuan begitu banyak jumlahnya, maka satuan plenton Belanda tersebut lari terbirit-birit. Di antara kaum perempuan yang menyerbu itu, seperti yang sudah saya singgung di atas, di antaranya ada ibu Hajjah Aisyah (ibu kandung Abdul Gafur).

Upaya lain kemudian dilakukan oleh Belanda, yakni pada 17 Februari 1947, jam 16.00, sore hari, dengan mengirim dua utusan berpakian adat dengan kapal KM. Tidor yang lego jangkar di pelabuhan Patani. Dua orang berpakian adat itu, salah satunya adalah Sultan Ternate M. Jabir Syah dan menemui Haji Salahuddin. 

Haji Salahuddin merasa memperoleh kehormatan, tapi bukan berarti Haji Salahuddin tidak tahu menahu bahwa kedatangan Sultan Ternate tersebut di luar dari kepentingan politik Belanda. Haji Salahuddin sudah lama malang melintang dalam jagat perpolitikan dan berhadapan langsung dengan pihak Belanda tentunya mengetahui pasti hubungan erat antara pihak Belanda dengan Kesultanan Ternate maupun Kesultanan Tidore, bahkan sudah dari awal masuknya VOC Belanda di awal abad 16, kedua kerajaan tersebut bertarung untuk mencari posisi berkuasa di Malaku.

Haji Salahuddin memerintahkan kepada seluruh pengikutnya untuk menjadikan senjata mereka sebagai alas duduk dan jangan melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Maka tamu kehormatan Sang Sultan Ternate disambut oleh Haji Salahuddin di teras masjid, hanya sepatah-kata sang Sultan dan Haji Salahuddin berucap. Sultan Ternate M. Jabir Syah memerintahkan Hulptoepen segera menggandeng Haji Salahuddin untuk dinaikan ke atas kapal KM. Tidor.

Ketika diadili dihadapan pengadilan Belanda di Ternate, Haji Salahuddin melakukan pidato pembelaan (pledoi) yang pada intinya pengadilan Belanda tidak memiliki wewenang untuk melakukan sidang terhadapnya, yang berwenang adalah pengadilan Republik Indonesia, karena ia diamanatkan oleh Soekarno-Hatta untuk kemerdekaan Indonesia, dan tak mau tunduk pada pemerintahan Belanda dan kedua kesultanan Ternate-Tidore. Dalam pengadilan tersebut Haji Salahuddin tidak mau mengajukan banding ataupun kasasi.

Akhirnya pada Juni 1948, kejaksaan Ternate mengeksekusi putusan Pengadilan Negeri. Esoknya jam 06.00 Haji Salahuddin dieksekusi mati di depan regu tembak di lapangan tembak Skep, jasad almarhum dikebumikan di pekuburan Islam Ternate.

Pada periode pertama perjuangan Haji Salahuddin di atas, kita bisa melihat bagaimana pengorbanannya untuk kemerdekaan Indonesia hingga akhirnya ia harus mendekam dalam penjara di Nusakambangan dan Boven Digoel.

Pada periode kedua setelah ia dibebaskan oleh Jepang, Haji Salahuddin mendirikan organisasi berbasis Islam, tapi oleh pengikutnya dianggap sebagai SI jilid dua. Pada masa inilah Haji Salahuddin lebih progresif dalam perjuangan. Ia yang dulunya hanya dikenal sebagai camerad dalam keanggotaan SI-Merah dan dikejar-kejar hingga dipenjarakan kini menjadi tokoh yang kharismatik dan menjadi pimpinan dalam SI jilid duanya. Ia pun memiliki pengikut setia bahkan dikatakan berjumlah tiga ribu dan memiliki 600 ratus kaum perempuan yang pemberani.

Karena gerakannya dengan SI jilid duanya ini lebih progresif, Belanda merasa kebakaran jenggot, maka berbagai upaya propaganda dilakukan untuk menghentikan gerakan politiknya, namun beberapa upaya pemerintahan Belanda mengalami kegagalan. Hingga akhirnya dengan mengutus Sultan Ternate M. Jabir Syah ke Patani, dengan begitu, Haji Salahuddin dapat ditangkap dan di eksekusi mati.

Kini apa yang diperjuangkan oleh Haji Salahuddin untuk cita-cita kemerdekaan Indonesia malah dilupakan oleh Negara ini. Jangankan negara yang ruang lingkupnya terlalu luas. Pemeritah Kabupaten Halmahera Tengah sendiri telah melupakan apa yang diperjuangkan, kalau pun mereka ingat, pasti hanya mengingat namanya “Haji Salahuddin” tapi lupa jasa-jasanya.

Seharusnya, pemerintahan yang baik adalah mengangkat namannya dan perjuangannya untuk memperkaya sejarah lokal serta sejarah nasional demi kemajuan sebuah bangsa. Bukankah Soekarno pernah berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah). Dan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”


Yogyakarta 10 November 2015


Share Tulisan FirmanSyah Usman


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas III

#ESAI - 01/05/2021 · 15 Menit Baca

Musim Berganti

#SASTRA - 01/05/2021 · 1 Menit Baca