× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SOSOK

Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi

“Ma! ini gimana yah ma kita lockdown (PSBB) lagi?”

Volunteer
Waria Kampung Duri di Tengah Pandemi
koleksi pribadi

28/11/2020 · 15 Menit Baca

Pandemi Covid-19 berlangsung di Indonesia dan ibukota DKI Jakarta menjadi episentrumnya. Oleh karenanya Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), baik dalam bentuk pengetatan total maupun pelonggaran yang dalam bahasanya pemerintah DKI Jakarta: transisi – PSSB transisi.

Bagaimana jika sampai enam bulan lagi? Pertanyaan itu yang ada dipikiran Sarta atau sering dipanggil Atha. Mama Atha. Dia juga biasanya memperkenalkan diri dengan nama Pandan jika bertemu orang baru. Pandan adalah nama akun Facebook pribadinya. Dia salah satu waria senior di Kampung Duri, Tambora, Jakarta Barat. Lahir dan berumah di salah satu sudut pasar Pos Duri. Tanggal 12 Januari tahun ini, usianya genap 52 tahun. Karena lebih senior dan dituakan, dia sering kali menjadi tempat mengeluh rekan-rekan sesama waria.

“Ma! ini gimana yah ma kita lockdown (PSBB) lagi?” kata Atha menirukan keluhan teman-temannya. Dia bingung mau bilang apa, yang pasti dia tak mungkin menjawabnya dengan keluhan juga. Ujung-ujungnya ia cuma bisa kasi jawaban: bersabar! Lebih baik begitu pikirnya, meski jawabannya sungguh klise.

“kadang aku suka kasihan sama mereka, melihat mereka mejeng kalo malam, belum lagi hujan.. angin,” cerita Atha.

Waria memang menjadi kelompok yang rentan di masa pandemi. Bisa dihitung dengan jari tangan untuk waria di Kampung Duri yang memiliki pekerjaan tetap atau usaha sendiri, entah jualan kue atau punya salon. Rata-rata mereka mengambil jalan praktis untuk menyambung hari-hari mereka dengan penghasilan harian: dari mengamen, rias pengantin, atau mejeng alias nyebong (sebutan bagi rekan waria yang bekerja sebagai pekerja seks).

Namun saat ini pekerjaan semuanya jadi sepi pelanggan dan pemasukan, biasanya, yang ngamen mendapatkan uang 100 ribu rupiah perhari, karena pandemi, mereka cuma mendapat setengahnya, bahkan kurang dari setengah. Sementara yang tadinya membantu di salon, kini turun ke jalan untuk ngamen ataupun nyebong. Atha sendiri sampai menutup usaha salonnya dan banyak pekerjaan rias pengantin yang dibatalkan. Ada klien yang tidak membatalkan, tapi karena acara resepsi ditiadakan, jadinya dia cuma merias di acara akad. Konsekuensinya, bayaran pasti berkurang.

Mungkin Atha, masih bisa memutar otak untuk mendapatkan penghasilan atau sekurang-kurangnya mendapatkan bantuan. Seperti hari rabu lalu, dia baru saja mengantar pesanan kue ke Taman Ismail Marzuki. Yang pesan katanya seorang kenalan di industri film. Tapi bagi teman-teman yang lain, memiliki banyak keterbatasan, dan jalan satu-satunya: nyebong.

 “Mak ada bantuan lagi gak?” kata Atha mengulang teman-temannya yang sudah pasrah.

“Nantilah kita lihat yah,” Atha menjawab, “kalaupun masih ada nanti juga kita kasih tahu.”

Waktu Sembako Tiba

Jam sembilan pagi, 12 September, lima orang rombongan dari Gerakan Indonesia Kita (GITA) mengantarkan sembako menuju ke tempat Komunitas Sanggar Seroja di Kampung Duri. Goenawan Mohamad termasuk salah satu yang mendirikan GITA, sekaligus menjadi dewan pengawasnya. Tujuan awal pembentukan perkumpulan ini sebagai upaya merayakan pluralisme melalui kesenian dan kebudayaan.

“Gerakan Indonesia Kita selama ini memang aktif mempromosikan kesenian tertutama karena kita juga mempromosikan pluralisme dan toleransi,” kata Ening Nurjanah, salah seorang perwakilan dari GITA, saat memberikan sambutan di pementasan online Sanggar Seroja sehari setelah bantuan  mereka antarkan.

Bantuan sembako GITA merupakan hasil dari donasi yang mereka kumpulkan melalui Kitabisa.com. Sebanyak 97 juta rupiah berhasil dikumpulkan dan diperuntukkan bagi 60 waria yang ada di sana. Sembako-sembako itu dikumpulkan di rumah Mama Atha.

Jalan menunju rumah Atha begitu padat. Melewati pasar. Tapi kali ini rombongan sedikit beruntung dibanding bulan lalu, saat mengantarkan bantuan sembako yang pertama. Mereka harus memutar arah mencari jalan lain, karena jalur tercepat tertutup, terhalang oleh hajatan warga di badan jalan. Ditambah beberapa panggung di mulut gang sudah didirikan untuk merayakan hari kemerdekaan yang akan berlangsung dua hari lagi.

Rombongan GITA sudah janjian di depan Masjid Al Ala. Begitu bak belakang mobil dibuka, dengan cekatan para waria mengangkut beras berkarung-karung dan kardus-kardus besar berisi bermacam sembako: ada minyak goreng, rencengan sambal, dan berbagai macam kebutuhan dapur, plus kondom. Beberapa warga juga urun tenaga.

Jarak rumah Atha dari masjid tak jauh, sekira dua ratus meter, namun masih harus menyeberangi lintasan KRL (Kereta Rel Listrik). Penumpang yang menunggu di peron stasiun Duri nampak dari situ. Para waria yang mengangkat kardus, seringkali berhenti mengambil nafas sebelum menyeberangi rel. Berat. Tapi ada saja satu dua waria yang memiliki tenaga lebih untuk membopongnya seorang diri.

Setelah menyeberangi rel, baru akan memasuki kawasan pasar Pos Duri. Hanya satu kali belokan kanan dan kiri, sudah sampai di rumah Atha. Jika masih ingat kebakaran di pasar Pos Duri yang terjadi pada tanggal 12 Agustus 2020, titik api dari rumah Atha hanya berjarak sepelemparan batu (itu pun dengan setengah tenaga).

Atha mengakatan, kalau kawasan tempat tinggalnya sejak dulu sudah dikenal dengan sebutan Gang Bencong.

Kardus-kardus sembako dari GITA ditumpuk di sepetak ruangan salon 3x3 milik Atha yang berhenti beroperasi semenjak pandemi. Atha sendiri punya sebilah kamar di lantai dua, yang tangganya terpisah dari salon. Tempatnya kumuh dan apek. Pakaian dalam bergelantungan di kepala. Aroma tahi kucing cukup mengganggu. Banyak lalat, di dekat situ ada penjual ikan asin.

Begitu barang sudah memenuhi seisi ruangan, segera para waria mengambil perannya: ada yang langsung menata sembako, ada yang menelepon temannya satu per satu untuk segera datang.

Suasananya rame sekali. Yang tadi menelepon kadang setengah berteriak, “ada sembekes cus.” Ayok, ada sembako, katanya.

Mama Atha di Mata Mega, Anak Angkatnya

Di tengah keriuhan pembagian sembako, seorang remaja perempuan muncul, turun dari tangga depan. Segera Atha menarik tangan anak itu dan memperkenalkannya kepada rombongan GITA.

Namanya Mega.

Mega tumbuh besar di sana dan sekarang usianya sudah 17 tahun. Ia baru masuk sekolah menengah di SMK Yadika II Tanjung Duren, Grogol. Ia cuma tahu bahwa yang mengasuhnya adalah Atha. Bukan ibu kandung, pun ayah kandung.

Ia tak tahu rasanya ASI, ia besar dengan susu formula. Tapi Mega merasa beruntung dibesarkan oleh seorang waria, karena sedari dini sudah tahu ada beragam gender, bukan cuma laki atau perempuan, dan dia belajar untuk menghargai perbedaan itu.

“kalau enggak ada mama, Ega enggak tahu deh bisa berpikir se-dewasa ini atau enggak

Mega mengakui kalau Atha-lah yang paling berperan dalam pendewasaannya, meski mereka sering berselisih, dan kadang ia kesal kepada mamanya itu. Namun seberapun kesalnya, ia masih memegang teguh sebuah pepatah: kalau surga di telapak kaki ibu. Meski ibu yang dimaksudnya adalah seorang waria. “Kalau elu ngelawan, lu emang mau entar enggak dapat surga?”

Bagi Mega, Atha adalah sebaik-baiknya orang tua, ia bisa mengisi kekosongan yang sekian lama tidak diberikan oleh kedua orang tua kandungnya.

Sejak bayi ia sudah ditinggal pergi oleh orang tuanya. Ibu kandungnya meninggal ketika Mega baru berumur empat tahun. Ayahnya pergi entah ke mana. Di umur empat tahun itu juga ia baru sadar kalau mama asuhnya adalah seorang waria, kemudin pelan-pelan ia juga baru mengetahui, kalau teman-teman Mama Atha yang sering berkumpul di rumah, juga adalah waria.

Mega melihat Atha bisa berperan sebagai apa saja. Sebagai seorang ayah, bisa. Sebagai seorang ibu, apalagi. Kadang juga sebagai kakak. “Mama tuh bukan mama yang kayak orang-orang, bukan mama yang perempuan, karena itu mama bisa jadi apapun.”                         

Geliat Berkesenian

Selain Atha mengajarkan anaknya untuk menghargai segala keberagaman, ia juga mendekatkannya dengan kesenian melalui Sanggar Seroja. Seperti dalam satu episode di program Youtube mereka, Delima Show, Mega diajak bermain peran.

Sanggar Seroja adalah komunitas seni yang dibentuk Mama Atha bersama rekan-rekan waria di Kampung Duri, dengan tujuan menciptakan ruang-ruang inklusif untuk waria di khalayak umum. “Jadi waria ini kan dianggap apa sih,” keluh Atha sembari mengenang masa-masa di mana keterlibatan waria dala kesenian intens sekali. Tak jauh-jauh, ia sendiri sudah melibatkan diri dan banyak mengikuti festival-festival tari sejak umur 25 tahun.

Festival pertama yang diikuti dalam tingkat sejabotabek, langsung berhasil meraih juara tiga. Pernah meraih juara dua dalam festival tari se-DKI Jakarta. Bukan cuma tari, bakat aktingnya dalam teater membuat dia terpilih sebagai aktor terbaik dalam beberapa festival kota sampai festival berskala nasional.

Tahun 80-an sampai 90-an menurut Atha cukup menggembirakan bagi para waria, yang paling dia ingat adalah diskotek Moonlight – sebuah klub gay dan waria di jalan Hayam Wuruk, Jakarta – sering membuat perlombaan tari untuk merayakan Hari Kartini, dan Atha biasa diundang jadi juri. Terkadang Atha juga diundang untuk menari Jaipong-an di setiap kamis malam, utamanya di awal tahun 90-an.

Geliat kesenian di kalangan waria itu coba dibangkitkan kembali oleh Atha dan teman-temannya, meski saat ini sedang terjadi pandemi dan hanya bisa melakukan pentas secara daring (dalam jaringan). Tanggal 13 September 2020, Sanggar Seorja menggelar pementasan kesenian virtual. Pementasan itu sekaligus upaya penggalangan dana untuk membantu sesama waria di Kampung Duri.

“Memang aku menggerakan mereka untuk selalu berkesenian,” kata atha yang sejak usia tujuh tahun mulai menyadari kalau gendernya berbeda.


Share Tulisan Arief Bobhil


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca