× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#RESENSI

Hal-Hal yang Mungkin

Bagaimana mengolah berita jadi fiksi tentu bukan persoalan mudah.
Hal-Hal yang Mungkin
Koleksi Penulis

08/03/2021 · 3 Menit Baca

Fiksi dapat mengabadikan fakta dan peristiwa lebih mumpuni daripada laporan jurnalistik. Ia juga mampu mengekalkan ingatan terhadap suatu kejadian, satu hal yang tak terlalu berhasil dilakukan berita. Berita dapat basi, tidak dengan cerita.

Saking hidup 24 jam dipenati dan digempur berita, tidak ada berita bisa jadi berkah. Sebaliknya tanpa cerita, hidup jadi hambar dan biasa-biasa saja. Cerita bahkan mampu menyelamatkan nyawa Syahrazad dari penggalan pedang Raja Syahrayar. 

Cerita pendek sebagai salah satu genre fiksi, di tangan para pencerita ulung, terbukti mampu menyulap berita menjadi tetap segar. Peristiwa 65, 98, Pembunuhan Munir, Pembunuhan Marsinah, hadir dalam cerita pendek dan terus menerus menjadi sumber ide banyak penulis fiksi. Dalam medium cerita pendek, peristiwa itu menjelma menjadi kejadian yang tidak sekadar mencekam, membuat perih, mencaci pihak yang harusnya bertanggung jawab tapi tak tersentuh hukum. Cerita pendek menjadi senjata ampuh melawan lupa. Akan tetapi, barangkali pengarang tak punya maksud seperti itu. Mereka hanya ingin menghibur pembaca dengan cerita, bukannya memprovokasi. Mereka sekadar bermain-main dengan kata. Tafsir dan makna adalah urusan pembaca.

Itu yang saya rasakan saat membaca Pesan dari Tanah, kumpulan cerpen Hilmi Faiq yang terbit akhir 2020 lalu. Seketika, kilasan-kilasan peristiwa yang saya cecap sambil lalu karena muncul di beranda mesin pencari di ponsel saya hadir kembali dengan efek berbeda. Saya jadi lebih berempati. Saya menjadi manusia lagi, bukan robot korporat yang dikejar target dan tenggat.

Pesan dari Tanah, melalui judul cerpen “Tolong Jangan Matikan Lampu di Ruang Tamu”, menghadirkan kembali keganjilan dan kehebohan penangkapan ketua adat di Kalimantan Tengah selang beberapa waktu setelah peristiwa itu terjadi. Seketika peristiwa itu menjadi segar di ingatan, terasa lebih nyata daripada saat saya menyaksikan wawancara Najwa Shihab dengan Ketua Adat Kinipan 3 September 2020. Demikian halnya ketika saya membaca cerita pendek “Kebenaran Hanyalah Kebohongan yang Divalidasi.”  Di kepala saya, hadir kembali sekelebat ingatan akan demo anti RUU Cipta Kerja, kemelut dan sengkarut diselingi gas air mata serta pemukulan mahasiswa sekelompok oknum, lalu tersenyum getir menyadari betapa fakta bisa terkaburkan hanya karena orang berkuasa yang menuturkannya, dan orang-orang kepercayaannya menderita kemalasan akut  untuk mengecek kembali.

Selain cerita itu, perang batu dua kelompok remaja dikemas apik dalam cerpen yang diberi judul sama, “Perang Batu”. Peristiwa itu terasa jadi terasa lebih manusiawi dalam cerpen Hilmi Faiq karena melibatkan asmara Kipli dan Lisa, dari kedua belah pihak yang merupakan musuh bebuyutan satu sama lain. Kipli yang akhirnya menyadari bahwa dendam hanya menyisakan kesepian mencoba menyadarkan ibu dan warga sekampungnya. Pembaca hampir dibawa pada pengandaian “jika saja semua persengketaan yang ada di negeri ini dapat dengan mudah diselesaikan cinta, tentu takkan ada lagi pertumpahan darah karena amarah dan sumbu yang pendek” sebelum Hilmi kembali membelokkan plot dan mempersembahkan takdir cerita sepenuhnya di tangan pembaca.

Cerita “Tolong Cari Suamiku” menyelipkan kegelian dan kemirisan pada saat yang sama. Korona menjadi sebab dan alasan sang suami pergi memeriksakan diri dan tak kembali lagi. Kegamangan pemerintah, aparat, dan masyarakat dalam menghadapi wabah tercermin dalam cerita ini. Lagi-lagi, karena ini cerita pendek, pembaca akan terus terbetik membaca sampai bertemu titik di akhir, bukan sekadar membaca judul headline, seperti pada berita (terlebih akhir-akhir ini, hampir semua judul berita dengan terang benderang menyatakan isi beritanya).

Bagaimana mengolah berita jadi fiksi tentu bukan persoalan mudah. Kalau gagal, pembaca akan dibuat mati bosan. Apalagi jika judul fiksi itu panjang-panjang. Beberapa judul cerpen Hilmi Faiq juga panjang (Saya jadi ingat salah satu judul cerpen Haruki Murakami), tetapi isi ceritanya justru bisa membuat pembaca terhibur, tertawa geli. Ibarat sedang minum kopi sambil baca berita, lalu tanpa sengaja kita menyemburkan kopi itu  bukan karena panasnya, melainkan karena kaget, atau menemukan sesuatu yang lucu. Cerpen “Pak Guru dengan Kacamata Melorot dan Penggaris Kayu Warna Kuning di Tangannya” misalnya. Di tengah keseriusan membaca, Hilmi menyelipkan kehadiran narator tiba-tiba. membuat pembaca gemas karena pas asyik menyimak cerita, dipotong komentar pengisah, seperti kutipan berikut.

“Baik saya maafkan atas tindakanmu yang sembarangan menunjuk Zainal. Saya tidak tahu Zainal memaafkanmu atau tidak, nanti kamu tanya sendiri. Tapi saya belum memaafkan kamu, dan kalian semua....” Dia menyapu pandang dari kanan ke kiri, dari depan ke belakang, mencari wajah-wajah bersalah. “Karena pulang pada waktu jam pelajaran.”

Semuanya diam. Eh, dari tadi memang diam, sih.(hlm.142--143)

Pemilihan sudut pandang orang pertama dalam cerpen ini terasa tepat. Dialog-dialog dalam cerita ini kembali membawa saya ke masa-masa SD sekaligus teringat kembali pada ratusan kasus hukum di negara ini yang dihiasi adegan ketika seorang tersangka/saksi/terdakwa tiba-tiba amnesia saat ditanya hakim.

Cerpen-cerpen Hilmi Faiq dalam “Pesan dari Tanah” kadang diakhiri dengan tebasan cerita yang sangat tidak diduga. Cerpen “Pesan dari Tanah” yang diletakkan sebagai pemungkas buku kumpulan cerpen ini seperti itu. Pembaca bisa jadi sudah mengira bahwa ini cerpen tentang kewajiban membayar utang sebelum mati sebelum akhirnya Hilmi Faiq menawarkan sesuatu yang justru lebih masuk akal dibanding sekadar menjadi seorang penyampai pesan dari kubur.

Usaha pengarang menghadirkan alternatif akhir kisah membuat cerita pendek dalam buku ini mengingatkan saya pada kata-kata Umar Kayam. Menurutnya, cerita pendek adalah usaha penulis untuk memahami kehidupan dengan menciptakan sebuah dunia alternatif. Hal ini tampak juga pada cerpen “Menagih  untuk Pergi”. Cerpen ini mengisahkan kegelisahan seorang anak yang ingin berangkat menuntut ilmu dan kemungkinan harus berpisah dari ibunya. Ada kisah Laika, seekor anjing yang “dikorbankan” Pemerintah Uni Soviet dalam upaya menjelajah ruang angkasa sebelum manusia mencobanya sendiri, yang membumbui dan menjadi latar logis cerita ini.

Usaha tersebut barangkali agar penulis lebih leluasa mengembangkan berbagai kemungkinan dan penafisiran atas kemungkinan yang dikembangkan itu (Cerpen-cerpen Danarto adalah salah satu contoh yang tepat). Cerita “Perang Batu”, “Pesan dari Tanah”, “Pak Guru dengan Kacamata Melorot dan Penggaris Kayu Warna Kuning di Tangannya”, dan “Menagih untuk Pergi” memberikan alternatif itu, membelokkan dari hal-hal yang selama ini sudah pakem.

Meski pembelokan dan altenatif ending itu tampaknya muskil, cerpen-cerpen dalam “Pesan dari Tanah” tetap bacaan yang sayang dilewatkan sambil menunggu pandemi berakhir. Cerita-cerita di dalamnya seolah menyerukan kembali kepada pembaca bahwa meski harapan terkadang adalah sesuatu yang rapuh, tetap tak ada salahnya menumbuhkan dan terus merawatnya. Itu yang membuat kita terus hidup, bukan? Cerita bisa jadi adalah senjata yang membuat kita tetap waras karena dipaksa mengunyah berita tak masuk di akal.

Dan Tuhan selalu bekerja dengan cara-cara yang tak pernah bisa kita duga.

 

Judul Buku : Pesan dari Tanah

Penulis: Hilmi Faiq

Penerbit: CV Mitra Sentosa

Jumlah Halaman: xv+ 163 halaman

ISBN:  978-623-92869-96.


Share Tulisan Darmawati Majid


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca