× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas I

Surat-Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas I
Sultan Nuku ; Foto Tirto.Id

21/04/2021 · 15 Menit Baca

Apa yang terjadi jika kata-kata menghilang?. Percakapan turut hilang. Menulis jadi mumi dan kemanusiaan seperti batu dan pasir. Tak ada yang hidup. Kata adalah awal kehidupan. Dengannya kita mengenal apa dan siapa kita, dunia di sekeliling kita, ini-itu dan banyak lagi tanya. Dengan kata kita menamai sesuatu yang asing. Bermula dari keterbatasan lalu mengumpul jadi kebiasaan dan berakhir pada ingatan. Jika kata-kata raib, ingatan akan ikut hilang.

Ingatan lebih mudah diatur. Tersimpan dalam bejana masa lalu yang berkelindan dengan lupa. Kita mengingat sambil melepas diri ke masa lalu. Svetlana Boym menyebutnya sebagai “Off Modern”. Mesin waktu yang berputar terbalik. Mesin itu bisa jadi adalah sekumpulan kata-kata sebagai “password”. Kunci pembuka. Dengan itu kita mengenal “surat”. Sebuah terobosan abad permulaan yang menghubungkan manusia dengan sesama. Dalam takdir yang vertikal, “surat” itu juga berarti kumpulan perkataan Tuhan yang ditulis ulang dan jadi pegangan keyakinan.

Surat menjadikan hidup tak sekedar menimbun ingatan. Merayakan yang ada dengan yang tak ada. Penyair Amerika, Emily Dickinson menyebut ; sebuah surat bagi saya adalah keabadian. Seturut itu, kita akan mengenang kiprah Sultan Boheyat atau Abu Hayat II.  Naik tahta pada tahun 1529 sebagai Sultan Ternate ke IV, Abu Hayat II aktif menjalin hubungan dagang dengan Portugis. Komunikasi dilakukan secara tertulis. Dua surat Sultan ke Raja Portugis dalam aksara arab diakui sebagai manuskrip melayu tertua di dunia. Surat-surat itu masih tersimpan di museum Lisabon.

Inggris bahkan mengklaim hubungan diplomatik dengan “Indonesia” telah ada berdasarkan surat Sultan Baabullah Datu Sjah kepada Ratu Elizabeth I pada  tahun 1577. Surat itu dititipkan Baabullah dan  dibawa oleh Francis Drake, pedagang asal Inggris yang berkunjung ke Ternate tiga abad setelah surat Abu Hayat II dikirim ke Raja Portugis.

Usai masa kepemimpinan Baabullah yang gemilang itu, sejarah menuliskan dengan tinta emas kemunculan Nuku Muhammad Amiruddin. Sultan Tidore yang paling masyhur. Nuku mengulang kejayaan para Sultan yang menentang penjajah dengan perang dan diplomasi. Meski begitu, menurut saya, apa yang berulang sesungguhnya bukan repetisi. Meminjam testimoni matematikawan Alfred North Whitehead ; tak ada pemikir yang berpikir dua kali. Tak ada subyek yang mengalami sesuatu dua kali. Tiap pengulangan adalah perbedaan. Baabullah mengusir Portugis. Nuku mengenyahkan Belanda.

Tapak heroisme Nuku dimulai saat ayahandanya Sultan Jamaluddin ditangkap Belanda atas perintah Gubernur Ternate Jacob Thomaszen pada tahun 1779. Jamaluddin selalu menolak perintah Belanda dan berkali kali menyatakan bahwa Tidore bukan bagian dari Belanda. Dua isyu yang ditentangnya adalah perintah penebangan pohon cengkih dan penyerahan wilayah Seram Timur. Belanda kehabisan akal. Sultan Jamaluddin dibawa ke Batavia untuk diadili bersama keluarga termasuk Kaicil Garomahongi dan Kaicil Zainal Abidin. Jamaluddin mangkat di Batavia. Sisa keluarganya dibuang ke Sailan - kini bernama Srilangka.

Saat ditangkap, para Kaicil dan bobato hendak melawan tapi Jamaluddin meminta mereka diam. Kepada Kaicil Nuku, sang ayahanda berpesan agar tidak melawan Belanda dengan senjata sebelum dirinya menyusun sebuah angkatan perang yang kuat dan terlatih. Belanda lalu menunjuk paman Nuku, Gayjira sebagai pengganti Jamaluddin. Thomaszen beralasan Gayjira hanya sementara sebagai Wakil Sultan hingga putera-putera Jamaluddin siap memimpin Tidore. Dua putera Jamaluddin, Kamaluddin dan Nuku menentang pengangkatan Gayjira. Bagi mereka, Belanda sudah menginjak-injak hukum dan martabat Tidore. Bagi Belanda, inilah misi mereka menghancurkan Tidore dengan politik “devide et impera” - pecah belah di kalangan istana.

Saat Gayjira wafat, Belanda terus memainkan politik pecah belah itu. Anak Gayjira diangkat sebagai Sultan Tidore. Namanya Patra Alam. Kamaluddin dan Nuku kembali melakukan protes. Gubernur Alexander Cornabe yang mengantikan Thomaszen tak peduli. Ia malah memerintahkan Patra Alam menangkap kedua putera Jamaluddin ini. Tanggal 2 Juli 1780, kediaman kedua Kaicil ini diserbu. Rumah mereka dibakar habis. Kamaluddin tertangkap dan dibawa ke Ternate. Nuku berhasil meloloskan diri. Saat Patra Alam dilantik sebagai Sultan Tidore pada tanggal 17 Juli 1780 di benteng Oranye Ternate, Nuku bersama keluarganya tengah berada dalam sebuah korakora di perairan antara Patani dan Weda. Ikut dalam rombongan itu, sekretaris Ismail, Kaicil Letnan Walaudin, Suma dan Hayrum - Kimalaha Toloa yang bertanggungjawab mengurus pelarian.

Insting Nuku yang tumbuh sebagai Kaicil Tidore yang melihat ayahnya menentang Belanda sejak awal memang telah terasah tajam. Saat ayahnya mangkat, Nuku telah mengutus Masa, Jogugu Tidore untuk bergerak ke arah Halmahera, Gebe dan Papua. Tugas Masa adalah mengkonsolidasi para Sangaji dan Raja untuk melakukan perlawanan. Nuku yang akan tiba di Patani dan memimpin sendiri perlawanan itu. Laku Nuku dalam landskap kekinian dikenal dengan nama “neoteny” ; kapasitas untuk mempertahankan karakter sejak kecil. mempertahankan imajinasi sampai dewasa. Sesuatu untuk “melawan”.

Saat Patani sebagai markas makin kuat, Nuku membentuk “tim media”. Tugas utama tim ini adalah memastikan semua informasi yang berkembang di Ternate dan Tidore harus secepatnya sampai kepadanya. Begitu juga sebaliknya, semua perintah Nuku harus secepatnya tersebar di Ternate dan Tidore. Kora-kora akan membawa informasi-informasi itu secara berantai oleh orang-orang kepercayaan Nuku. Saat itu, surat-menyurat belum dilakukan. Untuk mendapatkan informasi kekuatan musuh dan pergerakkan mereka, Nuku juga mengirim orang-orang kepercayaanya menyusup dan bekerja di Ternate dan Tidore. Mereka menjadi petugas “intelejen” yang menyamar. Memotret Belanda dan Tidore laiknya sebuah drone yang melayang di atas benteng dan rumah-rumah warga. Nuku juga mengirim utusan ke Seram dan pulau-pulau di Maluku yang jadi daerah kekuasaan Tidore dan menjelaskan situasi yang terjadi secara terbuka. Sangaji, para Raja dan rakyat diminta bersatu melawan Belanda.

Perang terbuka dengan Belanda dimulai saat Nuku menyerbu dan menguasai Obi. Belanda rugi dan marah. Armada besar dikerahkan Cornabe untuk menangkap Nuku yang dijuluki Prins Rebel - pangeran pemberontak. Menurut saya, sikap memberontak Nuku menunjukan kejeniusan dirinya. Craig Wright, Guru Besar Yale University yang menuliskan buku “The Hidden Habiits Of Genius. : Beyond Talent, IQ And Grit - Unlocking The Secrets Of Greatness” menyebut jenius tak berkorelasi dengan tingkat pendidikan. Komponis Beethoven tak bisa berhitung. Pelukis Piccaso tak tahu alphabet. Walt Disney sering tidur di kelas. Charles Darwin sangat buruk nilainya di sekolah. Albert Eistein lulus fisika diurutan ke empat dari lima mahasiswa. Tokh, mereka jenius yang diakui dunia. Jenius menurut Wright dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah memiliki sikap memberontak. Tanpa sikap memberontak orang tak akan maju. Tak berani mengambil resiko dan sering gagal.

Menghadapi pemberontakan itu, Patani diserbu Belanda. Nuku menyingkir ke Seram. Ia merasa aman karena sebelumnya para Raja dan Sangaji telah bersepakat mengangkat Nuku sebagai Sultan bagi rakyat Papua dan Seram. Dari Seram, Nuku mulai menjalankan politik adu domba. Melawan Belanda dengan senjata andalan mereka sendiri. Ia sadar betul posisinya terjepit di antara empat kekuatan besar ; Gubernur Belanda di Ternate, Ambon dan Banda ditambah Patra Alam - semuanya berhasrat menangkap Nuku. Nuku juga sangat sadar jika Cornabe tak mungkin menyerbu Seram yang jadi wilayah kekuasaan Gubernur Ambon.

November 1781, Nuku mulai menjalankan diplomasi surat-menyurat. Surat pertama Nuku ditujukan kepada Gubernur Belanda di Ambon. Surat ini merespons surat Gubernur Bernardus van Pleuren tertanggal 17 Oktober tahun yang sama. Van Pleuren meminta Nuku berdamai dan mengakui Patra Alam sebagai Sultan yang diangkat Belanda. Nuku juga diminta meninggalkan Seram karena daerah itu bukan lagi wiayah kekuasaan Tidore setelah Sultan Jamaluddin menyerahkannya kepada Belanda sebagai bagian dari pembayaran utang.

Klausul “penyerahan Seram” ini yang dulu ditentang sangat keras oleh Nuku. Mendapati surat itu, Nuku tidak marah dan terhina. Ia malah memanfaatkan surat van Pleuren sebagai jalan pembuka komunikasi. Nuku sangat rasional. Ia butuh “sekutu”. Setidaknya jangan sampai ke empat lawannya bergerak bersamaan menyerang kedudukannya di Seram.

Ia meminta sekretaris Ismail membuat surat balasan. Nuku meng-imla-nya. Ismail menuliskan dalam bahasa arab melayu. Inti surat Nuku ke van Pleuren  menjelaskan jika kisruh Kesultanan Tidore dimulai dengan pengangkatan Patra Alam - putera wakil sultan Gayjira - sebagai Sultan. Nuku menyampaikan dengan bahasa “memuja” jika Gubernur Ternate lah yang bersalah. Jika tidak ada campur tangan berlebihan atas tahta Tidore, dirinya tak akan melawan.

Saya kutip sebagian surat Nuku itu : Permohonan itu sudah dikabulkan oleh kompeni tetapi pemerintah kemudian membantu Patra Alam dengan meriam dan amunisi untuk membinasakan kami. Wahai, dia telah membakar rumah-rumah dan merampas semua harta benda kami sehingga habis semuanya tidak ketinggalan apa apa. Pada kami hanya sehelai kemeja dan sehelai celana tua. Sungguh menyedihkan betapa keadaan puteri-puteri yang hampir tak berpakaian harus lari meluputkan diri. Inilah sebabnya maka bobato-bobato pedar hatinya. Mereka mengantarkan Kaicil Sjaifuddin ke Papua. Dan disanalah Ia dinobatkan oleh orang-orang Papua sebagai Sulthan.

Karena berada di Seram, Ia akan sangat menghormati Gubernur Ambon. Nuku menulis ; Sri Paduka Sultan akan tinggal dua hari di daerah kompeni. Dengan permintaan janganlah kiranya kompeni yang terhormat mengambil gusar akan hal itu. Atau mengira bahwa Sri Paduka Sultan bermaksud tidak baik. Karena sekali-kali tidak ada niat demikian. Nuku menegaskan bahwa “pasukan” Papua yang bersama dirinya saat in hanyalah bagian dari upaya mempertemukan orang Papua dan Ambon agar bisa hidup damai di bawah kuasa Gubernur Ambon. Ia juga ingin berunding secara egaliter dan tak saling memaksa. Kepada van Pleuren, Nuku mengirim hadiah dan berharap Gubernur memberinya kain-kain untuk pakaian serta senjata dan mesiu untuk mempertahanan “kehormatan” Belanda di wilayah Seram.

Warakatulikhlas Nuku tertanggal 11 November itu dibawa oleh Raja Hatiau dan sampai di benteng Victoria serta dibaca secara seksama oleh van Pleuren. Gubernur bersimpati atas ketidakadilan yang diterima Nuku.  Dalam surat balasannya kepada Nuku, van Pleuren mengakui dirinya bersedih dan  berpendapat bahwa semua kesulitan yang dialami Nuku terjadi di wilayah Ternate. Nuku diminta menuntut keadilan di sana. Agar tak salah paham, van Pleuren mengundang Nuku dan para petingginya untuk berkunjung ke benteng Victoria. Surat balasan tertanggal 5 Desember 1781 itu dikirim van Pleuren bersama dengan sejumlah hadiah untuk Nuku berupa beberapa meter kain linen yang halus, dua karung beras dan cincin emas bertahtakan batu Suleiman.

Diplomasi awal Nuku sangat sukses. Di Ternate, Gubernur Cornabe dan Patra Alam memburunya. Di Seram, Ia malah dikirimi Gubernur van Pleuren hadiah dan “dukungan” untuk meminta keadilan. “Devide et impera” dipakai Nuku memecah Belanda.

(Bersambung)

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca