× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OPINI

Meninjau Kembali Pembangunan Melalui Perspektif Ekofeminisme

Alam merupakan ibu bumi
Meninjau Kembali Pembangunan Melalui Perspektif Ekofeminisme
Diambil dari LBH Yogyakarta

01/05/2021 · 3 Menit Baca

Dalam kehidupan di dunia ini, manusia tidak akan terlepas dengan alam dan lingkunganya. Alam merupakan tonggat  peradaban dalam kehidupan manusia, di dalamnya terdapat unsur saling menghidupi di muka bumi ini, tanpa adanya alam beserta ekosistem di dalamnya peradaban ini tidak akan pernah kokoh hingga pada saat ini. Lantas memuliakan alammemuliakan kehidupan.

​Kualitas dan kesejahteraan hidup manusia tidak akan mampu terlepas dari alam karena pelbagai hal bergantung kepadanya. Alam merupakan ibu bumi yang unsur di dalamnya mampu menghidupi kehidupan umat manusia. Namun sering kali kekayaan yang terdapat dari alam sendiri menjadikan sikap manusia untuk terus mengeklporasi maupun mengekspoitasi sehingga dampak yang dirasakan akhir-akhir ini yang ditimbulkan sangat mempengaruhi kehidupan manusia.

​Menyoalkan tentang pembangunan yang menggerus sumber-sumber kehidupan umat manusia tanpa melihat aspek kerusakan yang hendak di alami dari dampak pembangunan tersebut tentunya akan menjadi suatu tanda tanya besar mengenai pemaknaan pembangunan itu sendiri. Terutama dengan pembangunan tambang yang terjadi di alam di mana kebanyakan unsur kehidupan ketergantungan manusia akan alam akan terganggu oleh pembangunan tambang tersebut.

​Mengutip dari Oekan Abdullah dan Dede Mulyanto dalam bukunya Isu-Isu Pembangunan (2019), pembangunan merupakan diskursus yang melaluinya pelbagai pihak mencoba memaknai dunia dan mengubah dunia ini menurut kepercayaan dan pandangan mereka.Dalam bukunya Oekan dan Mulyanto memberikan suatu perspektif, misalnya saja pembangunan infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah dengan retorika untuk meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan, belum tentu diartikan sebagai pembangunan oleh warga yang terdampak paling merugikan dari prosesnya.

​Merefleksikan hal tersebut tentu kita berpikir sejenak, dampak pembangunan yang berlebihan  berimplikasi terhadap masyarakat-masyarakat kurang mampu yang di mana mereka tersisih dan hanya menjadi penonton akan dampak dari pembangunan yang sedang dilakukan. Pemaknaaan pembangunan sendiri sering kali bukan sebagai harapan untuk memperbaiki keberlansgungan hajat hidup orang banyak yang ada hanya menambah apa yang sudah menjadi sumber utama kehidupannya diganggu dengan adanya pembangunan tanpa melihat aspek alam sebagai penyambung kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut, terjadi kepada Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Melalui surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 509/41/2018 menetapkan Desa Wadas masuk ke dalam area pembangunan batuan andesit yang diperuntukan sebagai proyek pembangunan tambang.

​Mengutip dari Walhi Yogyakarta, pembangunan tambang kuari atau penambangan terbuka (dikeruk tanpa sisa) yang direncanakan berjalanan selama 30 bulan dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakan menggunakan 5.300 ton dinamit hingga ke dalaman 40 meter. Tambang kuari batuan andesit di Desa Wadas menargetkan 15,53 juta meter kubik material batuan andesit untuk pembangunan Bendungan Bener, dengan kapasitas produksi 400.000 meter kubik setiap bulannya. Rencana ini akan mulai beropreasi pada tahun 2023. 

​Melihat hal tersebut yang hendak dilakukan tentunya bagi masyarakat wilayah Desa Wadas akan berdampak pada kelangsungan hidupnya untuk saat ini hingga masa depan kelak. Hal yang menjadi ketakutan bagi masyarakat tersebut sangatlah lumrah melihat bahwa alam yang ada di Desa Wadas merupakan sumber utama bagi mata pencaharian mereka sehari-hari.

​Potensi kekayaan alam yang mampu menghidupimasyarakat Desa Wadas secara turun temurun untuk pelbagai hasil pertanian maupun perkebunan harus diubah menjadi wilayah pertambangan yang dampaknya sudah kita tahu bahwa akan menghancurkan keseimbangan ekosistem alam dan berdampak pada polusi bagi masyarakat sekitar. Selain itu potensi yang dihasilkan dengan adanya pembangunan tambang dapat memicu konflik agraria panjang, hal tersebut akan semakin memperumit kehidupan masyarakat sekitar.

Perlawanan Perempuan Terhadap Pembangunan Tambang

​Krisis lingkungan hidup akan menimbulkan kesengsaraan terhadap umat manusia, salah satunya yang rentan terdampak tentu kaum perempuan. Hal ini karena kaum perempuan pada umumnya memiliki tugas dan peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga, termasuk ketahanan pangan bagi keluaraganya.

​Seolah tidak pernah ada habisnya permasalah ini dalam kehidupan kita, telaah lebih dalam krisis lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini berakar pada kesalahan cara pandang perilaku manusianya sendiri, kesalahan cara pandang manusia dengan alam atau tempat manusia berpijak di alam semesta ini. Oleh karena itu, salah satu hal yang bisa mengatasi kegamangan orientasi pikiran manusia ini ialah mengubah secara fundamental terhadap manusia yang memanusiakan manusia beserta dengan alamnya.

​Vandana Shiva salah satu tokoh feminisme asal India dalam karyanya Bebas dari Pembangunan (1997).Dalam bukunya beliau mengatakan perempuan kerap kali digusur dari kegiatan produktif oleh pembangunan yang semakin meluas, karena proyek-proyek pembangunan menyita atau merusak sumber daya yang menjadi landasan bagi produksi pangan dan untuk kelangsungan hidup.

​Pembangunan kerap kali menghancurkan produktivitas perempuan karena pembangunan merebut dari tangan kaum  perempuan pengelolaan dan pengendalian lahan, air dan hutan, merusak ekologi sistem lahan, air tumbuh-tumbuhan, sehingga dampak yang dihasilkan menurunkan tingkat produktivitas yang ada. Apa yang kerap dirasakan ini selalu korban pertama ialah perempuan yang hak-haknya tergerus.

​Mengukitip dari LBH Yogyakarta pukul 05.00 wib pagi, ibu-ibu berkumpul menangis dan berteriak histeris melihat pemasangan tenda untuk sosialasi tambang. Para perempuan berkumpul hingga pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak menarik tenda itu. Ada pula tingkah serampangan yang dilakukan oleh oknum terhadap perempuan dengan melakukan tindakan refresifterhadap perempuan sangat miris melihat kaum perempuan diberlakukan sedemikan rendahnya. Apadilakukan oleh para perempuan yang tergabung dalam gerakan penolakan tambangan melihatkan bahwa semangat mempertahankan ibu bumi yang menjadi sumber kehidupannya patut diapresiasi.

​Pembangunan tambang yang hendak dilakukan di Desa Wadas menggerus hak-hak perempuan, di mana seharusnya menjadi pengelola dalam keberlangsungan hidup lingkungan, serta menajaga kestabilan pangan bagi keluarganya masing-masing akan terganggu, dampak ini tentu menunjang ke pelbagai aspek yaitu sumber pendapatan ekonomi yang terganggu, kesulitan bahan pangan serta dampak psikologis yang dialami perempuan.

​Oleh karena itu, kerusakan alam selalu menimbulkan dampak yang sangat panjang, sikap acuh dan pongah terhadap pemanfaatan sumber daya alam yang dipakai tanpa memperhitungkan aspek ekologi hendaknya suatu saat akan menjadi satu ancaman serius. Perempuan di Desa Wadas melihat bahwa kerusakan alam yang akan terjadi ini lantas mewujudkan kesadaran bahwa mereka tidak berorientasi untuk saat ini tetapi pemanfaatan kelak yang mampu dirasakan oleh generasi anak dan cucu kelak.

​Pembangunan kerap kali menghancurkan keberlangsungan hidup banyak orang, tidak sepenuhnya dengan pembangunan dapat berdampak terhadap pembaikan kehidupan namun kita harus sedikit jeli membuka mata bahwasanya pembangunan tambang yang hendak dilakukan khususnya di wilayah Desa Wadas ini akan menghancurkan masa depan mereka kelak yang di mana ketergantungan hidup mereka ada di sana.


Share Tulisan Hamzah Jamaludin


Tulisan Lainnya

Warakatulikhlas VI (Selesai)

#ESAI - 11/05/2021 · 15 Menit Baca

Warakatulikhlas V

#ESAI - 10/05/2021 · 15 Menit Baca

Laut

#ESAI - 08/05/2021 · 3 Menit Baca