× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Warakatulikhlas VI (Selesai)

Surat - Surat Sultan Nuku

Direktur LSM RORANO
Warakatulikhlas VI (Selesai)
Sultan Nuku / Foto : Tirto.Id

11/05/2021 · 15 Menit Baca

Desas-desus yang bertaut dengan ketakutan itu semakin hari kian berwujud. Belanda menyiapkan benteng-benteng. Menahan serangan yang entah kapan datang. Ternate dalam blokade. Pasokan bahan makanan makin menipis lalu perlahan hilang di bawa angin timur yang bertiup basah. Akhir April, armada Nuku mulai menyerang. Bagian selatan kota digempur. Hit and run. Hanya merusak lalu ketika Belanda mengerahkan bantuan dari benteng Oranye, armada Nuku mengangkat jangkar-jangkar korakora dan melaut pergi.

Saya menduga serangan-serangan yang sporadis itu bukan tanpa rencana. Nuku tengah merajut strategi perang. Butuh semacam “gempuran-gempuran kecil” untuk mengukur kekuatan Belanda di Ternate. Gempuran itu dipandu informasi intelejen yang diberikan secara rahasia oleh seorang agen bernama Gonone. Mirip menerbangkan drone, Gonone memberikan detil kapan Belanda lengah. Kapan Nuku menyerang secara mendadak lalu menghilang. Gempuran-gempuran itu secara taktikal merusak psikologi perang Belanda dan menyebar kepanikan di tengah rakyat. Gubernur Budach nyaris putus asa karena dia tahu, di belakang ratusan korakora Nuku yang menyerang, ada armada Inggris yang menatap dengan netra pongah. Menunggu kejatuhan Belanda.

Beberapa serangan yang merusak terus dilakukan armada Nuku. Kadang di selatan, berpindah ke utara dan sekali-kali langsung ke jantung pertahanan Belanda di benteng Oranye. Blokade laut dan penyergapan bantuan untuk Ternate digiatkan oleh armada Kaicil Zainal Abidin. Belanda tak diam. Mereka juga sekali menyerang Tidore dengan armada besar namun berujung kekalahan. Nuku secara diam-diam selalu dibantu Inggris. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian itu, Belanda memainkan lagi politik pecah belah. Budach menggeser pion dari dalam Kesultanan Tidore. Hasan, seorang Kaicil Tidore, adik dari Kaicil Zainal Abidin yang dipilih. Hasan sejak lama berkeinginan menggantikan Nuku. Kekuasaan memang selalu menggoda dengan seringai yang penuh enigma. Pramoedya Ananta Toer memberi tamsil : perang, kekuasaan dan kekayaan seperti unggun api dalam kegelapan. Orang akan beterbangan untuk mati tumpas di dalamnya.

Sepupu Nuku ini sungguh berhasrat untuk menjadi penguasa Tidore. Tak peduli dengan siapa Ia berkongsi. Dengan siapa Ia membangun jejaring penghianatan untuk menjatuhkan Nuku. Hasan yang sadar akan kekuatan Nuku yang didukung penuh saudaranya, Kaicil Zainal Abidin, memilih opsi memecah Nuku dan Zainal Abidin. Hasutan dan fitnah ditebar. Gubernur Budach yang sejak lama memusuhi Nuku memberi dukungan tanpa batas. Hasan mengincar mahkota Tidore dan Budach mengincar nyawa Nuku. Namun skandal ini gagal karena Nuku keburu tahu jika Belanda menggunakan Hasan untuk menghabisinya. Laporan-laporan dari Gonone menceritakan secara terang benderang semua gerak-gerik Hasan dan Belanda.

Nuku, Sultan yang arif nan bijaksana itu, yang kenyang dengan berbagai pertempuran dan berhasil menyatukan ribuan pasukannya tanpa satupun insiden pemberontakan selama Ia berjuang, sempat meminta kesetiaan Hasan untuk berjuang bersama membebaskan Tidore. “Jikalau Kamaluddin dan semua kamu sedarah daging dengan beta, mengapa kamu tidak sepikiran dengan beta dan membantu beta memerdekakan Tidore?. Malahan kamu tinggal bersekutu dengan Belanda dan suka tinggal dijajah dan diperbudak oleh mereka”. Hasan yang kelewat ambisius menolak tawaran Nuku.

Meski banyak desakan dari para bobato agar Hasan segera ditangkap, Nuku tak memilih opsi ini. Ia tak ingin Tidore mengalami gejolak. Ia juga tak ingin melukai hati adik kandung Hasan, Kaicil Zainal Abidin yang sangat diandalkan Nuku sebagai panglima perang dan telah ditetapkan sebagai Raja Muda Tidore. “Pengampunan” Nuku malah membuat Hasan makin lupa diri. Dua tahun berselang, Ia kembali melancarkan “serangan” terhadap Nuku. Suatu kebetulan jika pengganti Gubernur Budach yang tiba di Ternate 12 September 1799, Gubernur Willem Jacob Cranssen, juga punya dendam yang sama terhadap Nuku.

Berdua mereka menyusun rencana menghabisi Nuku dengan serangan angkatan perang besar ke ibukota Soasiu. Hasan duluan ke Tidore menghadap Nuku. Di hadapan Nuku dan para petinggi Istana, Hasan menjelaskan rencana Belanda menyingkirkan Nuku - sesuatu yang Ia tolak. Memutarbalikkan fakta menyembunyikan rencana jahat. Nuku menerima laporan itu dengan senyum. Pulang ke rumah, Hasan mengaktifkan jejaring penghianatan. Ia telah meminta Belanda menyiapkan armada di pulau Mare. Namun Cranssen dengan kekuatan penuh Belanda yang menunggu di pulau Mare - Hasan berjanji akan memberi kode serangan jika kondisi Tidore sudah dikuasai - tak pernah tahu jika intelejen Nuku sudah mengetahui rencana detil serangan “dari dalam” ini. Jogugu Moslafar dan pasukan Tidore kudu menyiapkan angkatan perang. Menjaga Nuku dan seluruh Tidore. Pintu masuk diperketat. Benteng disiagakan. Tidore dalam kode merah.

Kaicil Hasan yang mengaku sebagai Raja Muda - untuk meyakinkan Belanda agar mendukungnya - telah ditahan di rumahnya. Cranssen sangat malu saat angkatan laut Tidore mengusirnya dari Mare. Armadanya porak poranda dan puluhan prajurit tewas. Kepada Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, Ia menuliskan laporan pendek tentang pengakuannya pada Sultan Nuku dengan menyebutnya “Tuan Barakat”. Gubernur yang gagal itu juga menulis sebuah kalimat yang berisi testimoni nan epic ; “Orang-orang Tidore termasuk bangsa yang gagah berani dan bersemangat. Keberanian mereka jauh melebihi bangsa-bangsa lain”. Belanda kalah, Hasan dihukum mati beserta semua pendukungnya. Dampak lain dari penghianatan Hasan adalah serangan Tidore terhadap Belanda di Ternate yang makin intensif dilakukan.

20 Desember 1798, armada Nuku berkekuatan 200an korakora dengan ribuan prajurit gabungan menyerang Ternate. Benteng Kalamata dan benteng Toloko jadi target. Belanda ciut. Meski gagal merebut kedua benteng itu, ketakutan akan keperkasaan armada Nuku kadung menyebar. Laporan-laporan resmi Belanda menyebut armada Nuku sebagai orang-orang pemberani yang tak takut mati. “Tidak mungkin mendapati musuh dengan keberanian yang setara gagah perkasa, meski armadanya ditembaki meriam, mereka tetap mendayung lurus menuju benteng. Mereka tidak mempedulikan tembakan dari benteng, bergerak maju terus merangkak seperti binatang di atas tanah, tiba tiba mereka menghujam semua prajurit dan perwira dengan anak panah yang tajam dan membuat banyak yang terluka”.

Perang merebut Ternate dari Belanda ternyata berlangsung lama. Selama tiga tahun armada Nuku selalu menganggu konsentrasi Belanda. Inggris tak tinggal diam. Beberapa delegasi dikirim menemui Gubernur Cranssen mengajak menyerah tapi Cranssen menolak. Inggris tak senang. Naiknya Robert Towsend Farquhar sebagai Residen Ambon mempermulus rencana serangan besar ke Ternate. Farquhar sejak awal ingin Ternate dikuasai Inggris. Ia berhitung jika Nuku yang duluan merebut Ternate maka kuasa Tidore akan sangat besar dan tak mampu dikendalikan. Bisa saja mengancam kedudukan Inggris di Maluku. Di sisi yang lain, Nuku sejak awal telah bertekad mengusir Belanda dari bumi Maluku. Hanya Ternate yang belum ditaklukkan. “Kesamaan” keduanya ibarat “rampa-rampa” yang bertemu dalam “belangga” meski dengan cara dan tujuan yang berbeda.

Akhirnya Inggris bersedia bersama Tidore menggempur Belanda di Ternate. Kolonel Daniel Burr, komandan militer Inggris yang baru memimpin armada Inggris ke Ternate. Cranssen bersikukuh menolak menyerah. Inggris dan Tidore tak punya pilihan lain. Ternate digempur tembakan meriam dari berbagai sudut. Pasukan korakora mendarat. Benteng-benteng jatuh. Penduduk Ternate yang “terkepung dan menderita” karena ulah Belanda mulai beralih mendukung Inggris. Di benteng Oranye, Cranssen yang  keras kepala “dikudeta” sejumlah perwira Belanda. Ia ditangkap. Bendera putih dikibarkan. Nuku memimpin sendiri penaklukan Belanda di Ternate bersama para panglima perangnya. Ternate jatuh dan Belanda harus meratifikasi perjanjian baru bahwa mereka bukan lagi penguasa Ternate. Kedudukan mereka digantikan oleh Inggris. Bendera “Union Jack” berkibar di atas benteng Oranye pada tanggal 21 Juni 1801.

Usai penaklukan yang menyempurnakan perjuangannya, Nuku kembali ke Tidore. Ia tak menandatangi traktat apapun dengan Inggris. Kesultanan Tidore tetap jadi wilayah merdeka. Tidore adalah sekutu. Negara sahabat. Bukan bagian dari wilayah pendudukan Inggris di Maluku. Banyak perjanjian di bidang perdagangan yang dibuat kedua negara. Nuku memimpin Tidore dengan sistim politik luar negeri yang bebas dan aktif. Tidore tidak akan pernah tunduk pada kekuatan asing dan bebas berhubungan dengan negara atau kerajaan yang lain. Kesultanan juga secara aktif menjaga sistim perdagangan yang saling menguntungkan.

Setahun setelah terusirnya Belanda dari Ternate, sejarah Eropa berubah dengan penandatangan perjanjian Amiens antara Perancis dan Inggris pada 27 Maret 1802. Traktat ini antara lain mengatur pengembalian seluruh wilayah jajahan yang dikuasai Inggris kepada Belanda kecuali Srilangka. Batavia bergegas mengutus Cranssen ke Maluku sebagai Gubernur Ambon. Ternate dan Banda “diturunkan” statusnya dan hanya dipimpin Wakil Gubernur. Cranssen bertemu Kaicil Zainal Abidin yang tengah bertugas di Ambon. Musuh lama Nuku ini coba merayu Zainal Abidin agar melawan Nuku dengan janji pengakuan dan dukungan Belanda untuk dirinya sebagai pengausa Tidore. Kematian Hasan di tangan Nuku diungkit lagi. Zainal Abidin menanggapi dingin tawaran licik itu. Ia malah ditugaskan Nuku memimpin delegasi Tidore untuk berunding dengan Belanda. Sebuah perundingan yang alot dan penuh debat nasionalisme.

Tidore mengajukan tuntutan agar dalam setiap upacara kebesaran di benteng Oranye, Sultan Tidore berada di posisi terdepan, Belanda harus membayar ganti rugi kepada Tidore akibat perintah penebangan cengkih dan pala yang merugikan rakyat, Tidore akan menjual rempah-rempah kepada Belanda sesuai harga yang disepakati keduanya, Belanda mengakui Muhammad Arif Bila - yang garis keturunanannya berasal dari Sultan Jusuf, Kolano Jailolo - sebagai Sultan Jailolo dan biarkan orang-orang Makian menentukan sendiri pilihannya apakah akan bergabung dengan Ternate atau Tidore. Semua pasal tuntutan Tidore ditolak Cranssen sebagaimana disampaikan oleh Wakil Gubernur Petrus Goldbach. Hanya pasal perdagangan yang disepakati. Nuku menerima laporan Zainal Abidin dengan tenang. Baginya, pasal perdagangan yang saling menguntungkan itu akan memajukan ekonomi Tidore. Tak ada monopoli, Biarkan Belanda membahas pasal-pasal tuntutan Tidore yang lain dan selama belum ada keputusan apapun, sikap Tidore sebagai negeri yang merdeka tak berubah.

Sengkarut tuntutan-tuntutan itu ternyata memakan waktu yang lama. Wakil Bubernur di Ternate berganti ke Carel Wieling. Cranssen dan Belanda tak pernah bisa menekan Nuku. Belanda yang tak kehilangan akal kembali meratifikasi sebuah tawaran perjanjian baru dengan Tidore. Sebanyak 26 pasal dijelaskan secara rinci dalam tawaran yang dibawa delegasi Belanda ke Istana Soasiu. Tetapi begitu membaca mukadimah perjanjian itu yang menyebut Belanda berhak “menguasai” seluruh daerah kepulauan di Maluku, Nuku langsung murka dan menolak berhubungan apapun dengan Belanda. Di sela waktu membahas perjanjian yang tak tuntas itu, perang acap kali meletus ketika armada Nuku berjumpa Belanda. Cranssen masih terus berupaya mengeyahkan Nuku. Namun Nuku dan Tidore tak goyah. Tidore makin berkembang. Rakyatnya makin sejahtera. Nuku memimpin dengan bijak sambil menyiapkan Zainal Abidin sebagai penerusnya.

Kepada Zainal Abidin, Nuku hanya menitipkan kedaulatan Tidore yang tak boleh tergadaikan. “Berapa lama lagi beta akan duduk di atas tahta Tidore?. Mungkin setahun dua tahun lagi Zainal Abidin akan menggantikan beta. Tiap batu, tiap pasak dan tiang peneguhan tahta Kesultanan, yang dicapai dalam perundingan dengan Belanda itu, semata-mata hanya guna memperkuat kedudukan Zainal Abidin terhadap bobato dan rakyat Tidore. Bukan itu saja, tetapi juga terhadap kuasa-kuasa asing entah Belanda, entah Inggris”. Jangan pernah menandatangani sebuah perjanjian jika Kesultanan Tidore dirugikan dan kedaulatannya dihapus.

Nuku, Sultan terbesar dalam sejarah Kesultanan Tidore, satu-satunya Sultan yang memenangkan perang dengan diplomasi surat-surat, menggalang koalisi, menyatukan begitu banyak pasukan dengan latar berbeda, memimpin para pemberani yang bersenjatakan jubi-jubi dan parang, akhirnya menemui batas jua. Kamis, 14 November 1805, “Jou Barakati” ini berpulang menemui Sang Pemberi Berkat dalam usia 67 tahun. Tidore berurai airmata. Pangeran pemberontak itu adalah Sultan yang abadi dihati rakyatnya. Tak tergantikan.

Andai saja hari-hari ini berputar mundur ke masa-masa kejayaan Nuku, mungkin saya dan kita semua tengah berpendar penuh syukur mengikuti perjalanan muhibah Nuku. Mengelilingi wilayah Tidore dari pulau ke pulau. Menyapa rakyat dengan senyum dan pelukan hangat. Nuku adalah satu satunya Sultan yang terbiasa mengelilingi wilayah kekuasaanya tiga kali dalam setahun. Pada saat tahun baru Islam, selama Ramadhan hingga jelang Idul Fitri dan menjelang Idul Qurban. Ritual yang menjadi penanda untuk menyambut sesuatu yang baru dengan kesucian hati dan kepastian berkorban untuk rakyat yang dicintainya.  

(Terima kasih - Syukur Dofu yang tak terhingga disampaikan kepada Yang Mulia Sultan Tidore, Husain Sjah yang banyak memberi petunjuk dan dukungan. Terima kasih Bapak Ibu pembaca yang terus '"menantang" saya untuk menulis ulang epos perjuangan Sultan Nuku dari Tidore dalam bentuk yang lebih milenial dan dibagikan secara digital. Terima kasih khusus untuk kawan seperjuangan Ghad Hasan untuk semua provokasinya yang brilyant. Sumber tulisan dalam enam babakan ini sebagian besar bermuara dari buku Elvianus Kattopo ; Nuku, Perjuangan Kemerdekaan Di Maluku Utara, Jakarta 1957 dan buku Muridan Widjojo ; Pemberontakan Nuku, Komunitas Bambu 2013)


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca