× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Denting Angin, Lenting Daun Cemara

Sajak Sabtu
Denting Angin, Lenting Daun Cemara
Foto: Ibrahim Gibra

15/05/2021 · 1 Menit Baca

tak bisa kurapal dengan fasih
perjumpaan lenting angin
dan denting daun cemara
di antara kecipak sayap camar

musim manakah
yang enggan datang bertukar rupa?

tapi ini laut dan pantai
sudah lama menanti datang
orang-orang membawa deru kota 

ini tempat segala penat
merebah
ini tempat segala galau
terhalau

hingga denting
daun-daun cemara itu
menderai segala dulu

hingga lenting angin itu
menyulam segala rindu

lalu orang-orang
kembali berkelana ke kota
sampai musim bertukar rupa

Ibrahim Gibra
14 Mei 2021

 

telah pergi kapal-kapal itu 

telah pergi kapal-kapal itu 
ke cakrawala
bersama deru ombak 
dan angin

tapi siapa yang tahu
tempo apa kapal-kapal itu kembali bersauh?

hanya rindu seorang perempuan
hanya mimpi seorang anak
yang bisa membaca deru jangkar

kalaulah angin berganti musim
nyata sekali deru mesin di pelabuhan ini

Ibrahim Gibra
13 Mei 2021

 

kenangan bulan bersalin rupa

sore ini
bulan kecil baru saja turun di kaki langit

masih tersamar
tapi itukah tanda kita harus mulai
mengeja lagi hari-hari yang
dipilin deru kota?

arus semalam memang menggelar riak
dan bunga-bunga lamun pun meniriskan
bulan satu malam

lalu di pantai ini orang-orang berkaca:
“o, bunga lamun telah berkabar, bulan baru telah tiba”

sesudah itu semuanya menjadi biasa
dan hari pun bergegas pergi

sampai saatnya tiba lagi 
bunga lamun meniriskan bulan satu malam 
di lain waktu

begitulah kenangan bulan bersalin rupa

Ibrahim Gibra
12 Mei 2021

 

angin sakal [2]
:untuk Rita Inderawati

angin sakal memang memukul rinai
angin sakal memang menawar badai

tapi tak ada haluan yang melupa buritan
sebab bagi lelaki laut 
angin sakal cuma cara buritan
menuntun haluan

angin sakal memang menghadang
angin sakal memang nakal 

tapi tak ada haluan yang
tak berani pada tujuan
tak ada buritan yang melupa kemudi
sebab lelaki laut  
sudah menitip janjinya
pada layar

Ibrahim Gibra
14 Mei 2021  


Ibrahim Gibra, nama pena dari Gufran A. Ibrahim, punya kegemaran menulis artikel ihwal bahasa, masalah sosial budaya, demokrasi, pendidikan, dan literasi di Kompas dan di sejumlah koran lainnya. Ia juga menulis sajak dan cerpen yang diterbitkan dalam bentuk buku maupun diterbitkan di koran cetak dan daring. Gufran A. Ibrahim adalah Guru Besar Antropolinguistik pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun. Ibrahim Gibra telah menerbitkan antologi sajak pertamanya, Karang Menghimpun Bayi Kerapu (Penerbit Jual Buku Sastra, 2019). Kini Ibrahim Gibra telah merampungkan antologi sajak kedua, Musim yang Melupa Waktu (sedang dalam proses penerbitan) dan antologi ketiga, Pucuk pun Beriba pada Ranting (sedang dalam penyuntingan). Ia juga telah merampungkan buku kumpulan artikelnya yang pernah dimuat di Kompas dan koran lainnya, Bertutur di Ujung Jempol: Esai Bahasa, Agama, Pendidikan, dan Demokrasi (kini sedang dalam proses penerbitan). Ibrahim Gibra dapat dihubungi via ibrahim.kakalu@gmail.com


Share Tulisan Ibrahim Gibra


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca