× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#ESAI

Kalesang; Komik, Kaum Muda, dan Suara Warga Kota

Tulisan atau gambar memang tidak sekeras teriakan di jalan.
Kalesang; Komik, Kaum Muda, dan Suara Warga Kota
Isu lingkungan dalam komik karya Intan Mutiara Abbas dan Aulia Rachmatulloh. (dokumentasi pribadi)

09/06/2021 · 5 Menit Baca

Kalesang, sebuah kata dalam kamus bahasa Melayu Ternate yang semakna dengan perhatian atau kepedulian. Ia merefleksikan hasil interaksi antara diri dan lingkungan, lalu terwujud ke dalam sikap menempatkan suatu kondisi sebagai kepentingan bersama. Sebaliknya, ia juga bisa mengungkapkan sindiran atau rasa tidak senang, umpamanya atas rasa ingin tahu orang lain yang berlebihan. Makna kalesang akhirnya ditentukan oleh konteks dan caranya diucapkan.

Selama delapan hari di minggu terakhir bulan Mei 2021, orang-orang datang ke gedung Magazin für Pulver di kawasan Benteng Oranje untuk mengerti bagaimana kalesang—dalam makna baik—diberi bentuk dalam karya seni. Di balik tembok tebal yang menyimpan sejarah panjang kolonialisme sebuah negeri, publik bisa menyaksikan pameran komik yang merupakan bagian dari peringatan hari jadi Komunitas Komikus Ternate (KOKONATE). 

Sejak didirikan lima tahun lalu, komunitas ini menjadi tempat berhimpun sejumlah pelajar dan mahasiswa yang punya kesamaan minat pada komik. Mereka bertujuan mengolah komik menjadi media ekspresi yang menyenangkan. Istilah kalesang dipinjam oleh KOKONATE sebagai tema pameran—terlaksana dengan semangat swadaya dan didukung penuh oleh Magazin Art Space—, untuk menunjukkan sikap peduli mereka pada kotanya.

Penciptaan komik sendiri merupakan bukti bahwa manusia adalah makhluk yang senang bermain-main dengan segala sesuatu, termasuk dengan bahasa rupa sebagai sarana komunikasi. Sudah sejak lama komik dijadikan cara membaca perilaku manusia dengan ciri khasnya: estetik, spesifik, menghibur, sederhana dan mudah dipahami. Itulah yang membuat komik efektif untuk menyampaikan pesan, saran dan kritik. Seperti kita ketahui, kritik bermanfaat sebagai mekanisme kontrol sosial sehingga dapat mengubah dan mempengaruhi pandangan publik. Pada gilirannya, akan berdampak pada perumusan kebijakan serta pengambilan keputusan oleh pihak berkaitan. Setidak-tidaknya itu hal terbaik yang bisa kita harap.

* * *

Berdiri di depan puluhan panel gambar berbingkai kayu akan membuat kita terkagum-kagum melihat bagaimana para komikus itu bekerja. Misalnya Andi Abin, pemuda yang baru tahun lalu menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 1 Kota Ternate, memilih penyampaian kritik bergaya humor. Dengan sifatnya yang santai, humor menjadi cara paling lentur untuk membahas berbagai persoalan sensitif, termasuk berbicara tentang hal yang berpotensi menyulut konflik, mengatasi formalnya pola sosial, dan meredakan ketegangan dalam berkomunikasi.

Abin menggambar karakter kucing sebagai metafor manusia. Sepasang kucing jantan dan betina berwisata keliling Benteng Oranje dengan bantuan seorang pemandu. Saat mereka hendak melanjutkan tur, mereka mendapati sepasang kucing lain sedang berbuat sesuatu yang sepantasnya dilakukan di ruang privat, sehingga sang pemandu sendiri jadi malu. Komik ini merupakan satir atas penyalahgunaan bangunan cagar budaya tanpa peduli sedang berbuat dosa besar pada situs bersejarah.

Menengok karya Aswin A. Ilyas berjudul ‘Belum Ada’ akan menggali ingatan muram kita sendiri saat berurusan dengan negara. Komik ini terinspirasi dari pengalaman pribadi ketika mengurus surat keterangan kematian kerabatnya. Waktu ia datang ke kantor lurah untuk meminta tanda tangan, seorang staf mengatakan bahwa Pak Lurah belum ada di tempat, sedangkan saat itu sudah jam kerja. Beberapa kali ia bolak-balik dengan percuma. Jawaban belum ada selalu diterima setiap kali ia bertanya, padahal kediaman lurah tak seberapa jauh dari kantor. Ini hanya contoh kecil dari buruknya pelayanan publik yang menyusahkan masyarakat. Setiap orang punya cerita-cerita semacam itu dengan beragam variasi, mempertegas betapa rapuh kepercayaan warga pada birokrasi untuk mengurus hajat hidup mereka.

Tema turunan yang paling banyak dieksplorasi adalah pencemaran lingkungan. Tidak beresnya pengelolaan sampah di darat akhirnya bermuara di laut, menyebabkan ancaman serius terhadap kehidupan hewan dan merusak keindahan laut. Konsekuensinya, segala keburukan yang terjadi akibat perbuatan manusia akan kembali kepada manusia itu sendiri. Namun bukan tidak mungkin masalah itu dapat diatasi jika kita mau bersama-sama merawat alam, seperti tergambar dalam karya Intan Mutiara Abbas. Ia memandang kekuatan kolektif sebagai salah satu strategi untuk mengembalikan kesejahteraan lingkungan, sebab bekerja sendiri punya setumpuk keterbatasan.

Mengambil sudut pandang gender, The Red Lady karya Rahmatia mengajak masyarakat agar peduli pada hak, akses, maupun partisipasi perempuan. Setiap orang perlu kebebasan berekspresi dan berkehidupan, setiap pribadi punya otoritas atas tubuh dan pikirannya tanpa rasa takut. Sedangkan dari kacamata pekerja kreatif, Fathur R.H Shady secara implisit mengharapkan dukungan dan kepedulian pemerintah bagi pengembangan potensi kaum muda, utamanya seniman, demi kemajuan kota di masa depan.

Fadriah Syuaib, kurator pameran, juga menyumbang beberapa sketsa ingatan tentang masa kecil bebas perangkat elektronik: memanjat pohon, berenang di sungai, saling ganggu saat sembahyang di surau, rotan yang berkelebat menggetarkan saat mengaji di rumah khalifa, tangisan akibat menginjak duri babi—pengalaman yang sudah jarang dinikmati oleh anak-anak masa kini, termasuk anak-anaknya sendiri. Selain karya-karya di atas, masih banyak komik untuk disaksikan dan diberi makna.

* * *

Dalam gelar diskusi menjelang penutupan pameran, Mahmud Ichi—pembicara dari WALHI—berpendapat bahwa pameran ini merupakan titik berangkat yang baik dalam memahami isu lingkungan kota dari perspektif kaum muda. Pekan komik merupakan alat bantu bagi banyak orang yang tidak melihat kota sedang berjalan perlahan-lahan menuju ke krisis ekologis. Kehancuran sedang terjadi di depan mata dan pertanyaannya adalah: mengapa isu sekrusial itu tidak dijadikan sebagai arus utama dari aktivisme jalanan? Di Ternate, hampir setiap waktu bisa ditemui mahasiswa atau kelompok tertentu berorasi untuk mengamplifikasi berbagai isu. Namun isu lingkungan jarang mendapat perhatian, padahal sangat penting karena menyangkut kelangsungan hidup bukan hanya saat ini, melainkan juga bagi generasi selanjutnya. Merupakan suatu pemandangan langka melihat demontrasi menuntut penutupan tambang yang tidak bertanggung jawab, protes untuk penghentian praktek penebangan hutan-hutan, atau unjuk rasa menggugat pengelolaan sampah yang lebih baik. Sementara kritik melalui tulisan sering tidak dianggap sebagai kritik karena dipandang terlalu lembut untuk mendesakkan sebuah perubahan. Tulisan atau gambar memang tidak sekeras teriakan di jalan, tapi paling tidak itulah yang dapat diupayakan oleh orang-orang yang kekuatannya ada di ujung pena.

Selanjutnya, perlu dukungan untuk membuat pameran semacam ini dapat dilakukan secara teratur dan konsisten. Meskipun mungkin terlalu dini untuk memprediksi arah dan hasilnya, proses pengembangan kesadaran kritis selalu menawarkan harapan. Lebih penting lagi, bagaimana komik sebagai tanggapan yang layak dan wajar dapat digerakkan menjadi aksi nyata yang berdampak, tidak selesai begitu saja seperti slogan abad ke-19, l’art pour l'art, seni untuk seni. Memperlakukan seni tanpa tujuan tak ubahnya bagai cacing yang memakan ekornya sendiri, seperti kata sang filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche.

Sebagai bagian dari warga kota, kaum muda di KOKONATE aktif merespon gejala sosial di sekitar mereka lalu menyuarakannya kembali dalam bentuk visual. Kepekaan mereka menanggapi situasi memaksa banyak orang untuk mengevaluasi sentimen meremehkan yang kerap ditujukan kepada generasi ini, membangun narasi lain bahwa mereka lebih daripada yang terbayangkan. Menjadi kaum muda hari ini bukan hanya tentang menyesap secangkir kopi di kafe, membeli barang bermerek, menghabiskan waktu di mal, lalu mengunggahnya di media sosial. Di antara mereka ada yang berjuang untuk kehidupan dan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat menurut cara-cara mereka sendiri.

Di tangan kaum muda KOKONATE, komik serupa siasat bijaksana agar mereka tidak sekedar berada di posisi konsumen budaya, tapi juga pencipta. Alih-alih tunduk pada berbagai prasangka yang memandang dengan sebelah mata, mereka justru sedang menciptakan ingatan yang lebih baik tentang masa muda dan menolak dianggap sebagai bonus demografi yang sia-sia.


Share Tulisan Mariati Atkah


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca

Gonone

#ESAI - 25/05/2021 · 15 Menit Baca