× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Jika Parang Tak Tergenggam Dayung Tak Boleh Kering

Puisi
Jika Parang Tak Tergenggam Dayung Tak Boleh Kering
Foto: Koleksi Sendiri

09/06/2021 · 1 Menit Baca

Hujan sepertinya tak ingin aku pergi berlama-lama dan kamu menanti berjam-jam. Atau mungkin rencanaku tak lebih berat dari awan yang berhar-hari mengepul di pelupuk matamu. Padahal aku pergi untuk kita yang ingin lebih cepat ke Tarakani.

Perjalananku ke barat hujan telah menunda, bolehkah perjalananku ke timur, kamu tidak menunda? Aku tak ingin yang keluar semakin deras, sementara yang masuk tak pernah terdekap. Bukankah hidup kita, jika parang tak tergenggam dayung tak boleh kering?

2021.



Ke Timur Angin Membantu Ke Barat Angin Menghadang

Tiga kali sudah
aku melaut
dari barat aku berkayuh
ke timur aku berlabuh
dari timur aku berkayuh
di barat aku berlabuh

di timur
angin, ombak, ikan, dan arus
di barat
ombak, pantai, rumah, dan kamu.

Tiga kali sudah
aku melaut
ketika pergi
angin membantu
ketika pulang
angin menghadang

tapi aku lelaki
meski lelah dan basah
kepada pulang
aku tak akan menyerah.

2021.



Lautan

Lautan adalah perempuan
ketika kau merasakan sentuhan tangannya
kau ingin merasakan bibirnya
ketika kau merasakan bibirnya
kau ingin melihat putingnya
ketika kau melihat putingnya
kau ingin melihat rahimnya.

Lautan adalah perempuan
kau lelaki yang ingin
menelanjanginya.

2021.



Ikan-Ikan yang Merah di Atas Tungku

Aku pamit ingin pergi,
tapi kau melepasku seperti anak kecil yang baru saja melaut
sebab kau barangkali lupa, aku tumbuh di antara totobe, dayung,
perahu, dan babali yang terbuat dari kayu dan bambu.

Setelah berjam-jam berlabuh di tanjung
angin menggeserkan perahu ke mana-mana:
ke timur, ke barat, ke utara, ke paka-paka ombak
aku putuskan untuk kembali.

Di dapur mama yang harum
akhirnya kau yakin, lautan adalah kamu
dan ikan-ikan yang merah di atas tungku
adalah cinta yang pernah kau beri kepadaku.

2021.



Satu Hari Tak Makan Ikan

Kau bilang hidup sebagai anak pesisir
satu hari tak makan ikan adalah lapar yang berhari-hari memberi getar

maka kita-pun berangkat saat langit kembali cerah saat banjir sudah reda
kau duduk di haluan dan aku duduk di buritan dengan posisi berhadapan

ke timur, ke timur, kita berkayuh, perahu-perahu di depan kita tinggalkan.

Saat tima sampai di dasar dan ikan-ikan datang menyambar
pasir, tanjung, pohon-pohon, dan rumah-rumah kita jadikan sebagai nonako

tanpa sauh, mata dan dayung kita tak letih-letih menjadi jangkar dan kemudi
ikan-ikan yang kita naikkan ke perahu seperti warna pala, cengkeh, dan coklat

kita kembali ke barat seperti matahari pulang ke pangku ibunya, berlahan tapi pasti.

Kita tiba di rumah--- dan di dapur mama tak ada yang lebih berasap
dari tungku yang harum gonofu, fofau, pisang goreng, dan ikan bakar

kita duduk di bangku panjang-- dan tak ada yang lebih bahagia dari piring, leper
cere, dan gelas yang di depannya, mama, kakak, adik, dan cucu makan berhadapan.

Supu, 2021.

*nonako: tanda



Padahal Sebelum Lot Sampai di Dasar

Kukira ikan-ikan itu jauh pergi
dan tak akan kutemui
di ujung batu-batu yang memanjang ke laut, atau
di atas batu-batu yang terhampar di sepanjang tepi

padahal
sebelum lot sampai di dasar
mereka sudah menepi:
suguru dan gorara, idi dan goropa
gaca dan lolosi, datang bergantian

aku menarik mereka
seperti menarik buah cengkeh
dan buah pala dari rantingnya
penuh tawakal, syukur, dan hati-hati. 

2021.


Share Tulisan Abi N. Bayan


Tulisan Lainnya

Asosial

#ESAI - 19/07/2021 · 15 Menit Baca

Bendera Putih

#ESAI - 18/07/2021 · 15 Menit Baca