× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#OLAHRAGA

Indonesia Pasti Bisa!

Preview Semifinal Sea Games 2019 : Indonesia vs Myanmar

Direktur LSM RORANO
Indonesia Pasti Bisa!
Selebrasi Asnawi dan Osvaldo usai bikin gol di Sea Games Filipina/foto Tempo

07/12/2019 · 15 Menit Baca

Sabtu sore ini di stadion Jose Rizal Memorial, Indonesia akan menantang Myanmar di babak semifinal Sea Games Filipina 2019. Partai yang sangat ditunggu karena dua hal.

Pertama, romantisme Manila dengan nama stadion untuk menghormati salah satu tokoh bangsa ini adalah juara. 28 tahun lalu, saat sepakan penalti Sudirman berbuah gol lalu penendang penalti ke enam Thailand diblok kiper Edi Harto, Indonesia jadi juara. Dapat medali emas untuk kedua kalinya di ajang Sea Games sekaligus yang terakhir. Setelah medali emas untuk skuad asuhan Anatoly Polosin itu, Indonesia tak lagi naik podium. Sepak bola Asia Tenggara selama 26 tahun dikuasai oleh Thailand. Sendirian mereka juara tiap Sea Games berulang dalam dua tahun.

Kedua, Indonesia masuk semi final dengan banyak catatan hebat. Yang paling utama, kita mengalahkan juara dalam 26 tahun itu -Thailand - di partai pertama fase grup. Lalu kalahkan Singapura yang juga musuh bebuyutan nan tangguh. Skuad besutan Indra Sjafri jadi runner up grup B dan lolos ke semifinal meski alami satu kekalahan dari Vietnam.

Menghadapi Myanmar, saya punya keyakinan bahwa Timnas akan menang. Skornya bisa 2 - 0 atau 3 -1. Ada beberapa faktor kunci yang jadi ukuran jika Osvaldo Haay dkk akan melewati hadangan Myanmar. Meskipun lawan Timnas kali ini adalah juara grup A yang menyingkirkan salah satu favorit juara - Malaysia dan juga tuan rumah Filipina.

Analisa Statistik

Sejak era Sea Games mulai diperkenalkan dan Burma berganti nama jadi Myanmar, rekor pertemuan kedua tim tak berpihak pada Timnas. Dalam tujuh pertemuan terakhir di Sea Games sejak 2001, Indonesia hanya mampu dua kali menang. Tahun 2013 (1 - 0) dan di perebutan medali perunggu dua tahun lalu (3 - 1). Sisanya dua kali imbang dan tiga kali kalah dari Myanmar pada 2001, 2009 dan 2015. Catatan Timnas di semifinal Sea Games juga tak terlalu impresif.  Dari 16 kali semifinal hanya lima yang berujung tiket final.

Artinya, statistik berbasis sejarah tak terlalu membuat senyum mengembang. Tapi mengapa Indonesia akan menang?. Mari lihat statistik terkini selama Sea Games Filipina. Impresif dan menjanjikan. Dari lima pertandingan di fase grup, Indonesia mencatat empat kali menang dan sekali kalah. Catatan gol yang dibuat sangat produktif. 17 gol yang dbuat oleh delapan pemain berbeda adalah rekor baru Timnas di Sea Games. Terbanyak sejak berpartisipasi secara resmi di tahun 1977. 

Osvaldo Haay, anak Papua yang sejatinya adalah seorang gelandang jadi top skor sementara dengan 7 gol. Lalu ada Egy Maulana Fikri dengan tiga gol, Saddil Ramdani (2) dan masing - masing  satu gol dikontribusi oleh Witan Suleman, Sani Rizky Fauzi, Asnawi Mangkualam Bahar, Andy Setyo Nugroho dan Bagas Adi Nugroho. Tiga nama terakhir adalah full back

Di sisi defensive, Indonesia juga punya rekor bagus. Hanya kebobolan dua gol saat kalah dari Vietnam di pertandingan ketiga. Empat kemenangan atas Thailand, Singapura, Brunei dan Laos dibukukan dengan clean sheet. Tak kebobolan sama sekali dan mencetak 16 gol. Capaian yang menunjukan tim ini tak hanya produktif bikin gol tapi juga sangat sulit di bobol lawan.

Bandingkan dengan statistik punya Myanmar. Selama fase grup, skuad asuhan Velizar Popov ini hanya mencetak delapan gol. Sama dengan gol Osvaldo Haay ditambah satu gol pemain lainnya. Mereka juga kebobolan empat gol. Satu gol tiap pertandingan saat melawan Malaysia yang berakhir seri 1-1, menang 2-1 atas Filipina, Timor Leste ( 3-1) dan Kamboja (2-1). Tak terlalu produktif dan defensivenya juga tak bagus-bagus amat.

Dari statistik selama fase grup, Indonesia terbukti sangat produktif di babak kedua terutama di 30 menit akhir. Timnas bikin 9 gol di periode ini. Poinnya adalah stamina dan konsentrasi pemain sangat terjaga. Tak mudah bermain pada level ini dengan jadwal yang sangat padat. Lima pertandingan dalam sepuluh hari. Fakta ini berbeda dengan Myanmar. Tim ini justru lebih banyak mencetak gol di 20 menit babak pertama. Setelah itu tak lagi produktif dan kebobolan. Jika diadu, jelas Timnas unggul dalam skema dan taktikal  meskipun secara tim hasilnya sedkit banyak ditentukan oleh kontribusi pemain kunci.

Jangan lupa dalam duel perebutan medali perunggu Sea Games 2017, Indonesia yang sempat tertinggal dari Myanmar bisa berbalik menang 3 - 1. Gol penyama dibuat Evan Dimas. Selain Evan, ada pula nama Andy Setyo dan Osvaldo Haay di starting eleven pilihan Choach Luis Mila saat itu. Lalu ada nama Asnawi di bangku cadangan. Mereka berempat kini jadi pilar utama di Filipina.

Duel Pemain Kunci

Timnas Myanmar sebagian besar dihuni oleh skuad yang bermain di Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru. Ada tiga pemain yang wajib diwaspadai pergerakannya. Pertama tentu bomber mereka Aung Kaung Mann yang jadi top skor dengan tiga gol. Pemain ini memiliki finishing mumpuni dan sangat pintar mencari ruang kosong. Dua gol yang diciptakannya berasal dari open play. 

Kinerja Aung Kaung Mann sedkit banyak juga dipermudah oleh pergerakan winger lincah dan cepat, Lwin Moe Aung. Sayap 19 tahun ini sudah bikin satu gol dan wajib dihentikan penetrasinya oleh Bagas atau Asnawi. Ini pemain kedua yang menonjol.

Lalu ketiga ada pemain senior, Hlaing Bo Bo. Dialah otak permainan karena gayanya mirip Evan Dimas. Pandai mengatur ritme dan membagi bola. Kapten Myanmar ini juga telah mengoleksi satu gol. Pergerakan Bo Bo ditopang oleh pemain senior lainnya, Sithu Aung di sektor gelandang. Myanmar dalam Sea Games kali ini membawa dua pemain senior yang uniknya masih berusia 23 tahun.

Menarik melihat duel Bo Bo dan Sithu Aung kala berhadapan dengan Zulfiandi dan Evan Dimas. Keduanya juga adalah pemain senior yang dibawa Choach Indra Sjafri ke Filipina. Sektor gelandang menurut saya akan "dikuasai" Timnas karena kita punya tambahan amunisi defensive atau ofensive pada diri Rahmat Irianto, Syahrian Abimanyu atau Sani Rizky Fauzi. Tergantung pilihan taktikal.

Dengan formasi 4-3-3, lini depan Indonesia juga punya banyak pilihan. Sempat krisis bomber hingga ada wacana memanggil Beto atau Greg. Akhirnya kehadiran Muhammad Rafli yang bermain bagus saat ujicoba lawan Iran jadi pilihan. Ia adalah bomber satu satunya yang dibawa Indra. Namun Rafli ternyata tak maksimal dan juga cedera karena lapangan sintetis yang tak nyaman untuk bermain.

Berkahnya lalu muncul dalam diri Osvaldo Haay. Sayap Persebaya ini semula hanya pemain pengganti. Saat mencetak gol ke gawaang Thailand dan Singapura, Indra kemudian tak punya alasan menepikannya. Lalu semuanya jadi hebat. Osvaldo jadi bomber utama dengan 7 gol. Cepat, berani duel, bagus dalam melindungi bola dan berkelas saat finishing. Di sayap, ada Egy dan Saddil. Dua kereta cepat yang kerap bikin pusing barisan belakang lawan. 

Jika macet, Indra punya "kartu as" lainnya di sektor sayap pada diri anak muda 18 tahun, Witan Suleman. ada pula Feby Eka Putra. Dengan taktikal yang cair di lini depan dimana rotasi pemain berjalan mulus, agak sulit menghentikan Indonesia.  Situasi ini terkonfirmasi dengan 17 gol yang sudah dibuat. Timnas bisa bermain dengan false nine dan Witan akan jadi faktor kejutan seperti yang dilakukannya saat melawan Brunei.

Di sektor pertahanan, Indra juga punya banyak pilihan dengan kualitas setara. Kuartet Asnawi - Andy Setyo - Bagas Adi dan Firza Andika jadi pilihan utama. Potensi rotasi hanya terjadi di sektor bek sayap kiri. Firja punya deputi yang selevel pada diri Bagas Adi atau Doddi Djin yang anak Halmahera itu. Di center back ada nama Nurhidayat Haji Haris. Sekali lagi pilihan taktikal jadi opsi Indra. Tentunya dengan Nadeo Argawinata sebagai penjaga gawang utama.

Faktor Indra

Salah satu handycap Indonesia yang bikin tim ini solid dan menjanjikan adalah kehadiran Choach Indra Sjafri. Selain pemahaman taktikal dan analisis permainan yang mumpuni, Indra sangat paham dengan isi skuadnya. Mayoritas pemain Timnas saat ini adalah anak asuhnya saat AFC U-19 dan AFF U-22 yang tahun ini jadi juara di Myanmar. Ada juga bonus dua "anak emasnya" Zulfiandi dan Evan Dimas yang juara saat AFF U-19 tahun 2013 lalu. Indra adalah satu satunya pelatih Indonesia dengan gelar juara level junior di kawasan Asia Tenggara. Juara saat Indonesia tak lagi dihitung.

Pelatih asal Padang ini juga dikenal sangat dekat dengan pemainnya. Dia tak hanya melatih fisik dan tekhnik tapi juga jadi teman diskusi, orang tua yang melindungi dan motivator utama untuk para pemain muda Indonesia. Selain itu, Indra lah yang membawa revolusi dalam pembentukan Timnas di level junior dengan gayanya "turun kampung" mencari pemain di pelosok Indonesia. Level Timnas juga ditingkatkan dengan menggunakan data riset pemain, ahli gizi, psikolog hingga tim pelatih yang bekerja secara modern dan terukur.

Hasilnya performa Timnas jadi moncer. Dalam sepakbola modern, tiga hal yang paling krusial adalah menyerang, bertahan dan melakukan transisi. Bagaimana sebuah tim bisa membangun serangan dari bawah, berupaya mencetak gol dan jika gagal akan secepatnya melakukan transisi agar bisa bertahan dan tidak kebobolan. Begitu juga sebaliknya. Bertahan lalu lakukan transisi dengan baik untuk menyerang.

Jika berjalan sesuai skenario maka kualitas individu pemain akan jadi pembeda untuk menentukan kemenangan. Indra punya keahlian dalam pemilihan pemain sesuai kebutuhan. Setidaknya terbukti dengan penampilan Timnas yang sejauh ini konsisten dalam taktikal dan utuh sebagai sebuah tim. Choach Indra dengan sikap low profilnya jadi pembeda pula. 

Inspirasi Tim Hebat

Untuk juara, sebuah tim butuh motivasi untuk meningkatkan kualitas bermainnya. Kadang pemahaman taktikal dan kualitas pemain saja tak cukup. Dalam sepakbola selalu ada "sesuatu" yang mendorong. Dalam skala tertentu, hasrat mendorong itu meminta dengan memaksa. Harus juara. Untuk apa? Kehormatan. Semacam  nasionalisme yang mengajak untuk terus berjuang tanpa jeda.

Selain memori 1991 saat Indonesia juara di lapangan yang sama, kita tentu ingat kisah -kisah inspiratif sejumlah tim "biasa" yang tak dihitung dan jadi juara. Di level klub, perjalanan bak dongeng cinderella ditunjukan Leicester City di Priemer Leaque musim 2015 - 2016. Terancam degradasi di musim sebelumnya, Si Rubah hanya dihargai 5000 : 1 oleh semua rumah taruhan di Inggris untuk jadi juara. 

Lalu muncullah Kesper Schemeichel, Wes Morgan, Ngolo Kante, Jamie Vardy dan Riyadh Mahrez yang jadi aktor utama, ada Claudio Ranieri sang sutradara. Di tengah kepungan Arsenal, MU, Chelsea, Spurs dan City, Leicester jadi juara. Totalitas dan sikap menolak menyerah jadi modal utama. Mereka juara karena berhasrat juara. Berjuang menggapainya.

Lebih dari satu dekade sebelumnya, di pentas Piala Eropa 2004, ada juga kisah fantastis lainnya. Adalah Yunani yang datang sebagai tim pengganti bikin jagad sepakbola dunia gempar. Sama sekali tak diunggulkan, Yunani - negara kaya filsuf dan seniman yang tak punya sejarah sepakbola hebat - malah jadi juara Eropa setelah mengalahkan Portugal di partai final.

Tentang nasionalisme dalam sepakbola, kebangkitan Jerman Barat yang hancur lebur saat Perang Dunia II juga layak ditulis sebagai penyemangat. Di Piala Dunia 1954, Jerman Barat saat itu bukan tim unggulan. Hungaria dengan  Ferenc Puskas adalah momok paling menakutkan.

Buktinya saat Jerman Barat bertemu Hungaria di fase grup, skuad asuhan Josef "Seep" Herberger ini dibantai 8 - 3. Namun Jerman Barat menolak mati. Mentalitas mereka dibakar dan perlahan bangkit. Mereka akhirnya melaju hingga partai final. Seep Herberger selalu berkata, "Bola itu bundar. Pertandingan berlangsung selama 90 menit dan hal hal lain adalah teori belaka". Arti mudahnya adalah fokus pada pertandingan sebelum peluit akhir berbunyi. Jika yakin menang maka wujudkan.

Kota Bern di tengah hujan, 4 Juli 1954. Jerman Barat vs Hungaria. Lawan yang membantai mereka 8 - 3 di awal Piala Dunia. Apakah terulang lagi pembantaian itu?. Puskas dkk terlalu jumawa. Sempat tertinggal, Jerman Barat akhirnya jadi juara Dunia pertama kalinya setelah menang 3 - 2 dalam partai final yang ditulis The Guardian sebagai The most important soccer game ever played. Sebuah keajaiban.

Franz Beckenbauer, legenda sepakbola Jerman - yang jadi pemain saat Jerman juara Piala Dunia 1974 dan jadi pelatih di tim juara Piala Dunia 1990 - menulis cerita sukses tahun 1954 itu dengan emosional. "Bagi siapapun yang tumbuh dalam kesengsaraan di masa masa sulit paska perang, Bern adalah inspirasi yang luar biasa. Seluruh negeri mendapatkan kembali harga dirinya". Sesuatu yang bernama harga diri itulah yang coba ditegakkan kembali oleh Indra Sjafri dan pasukannya. Di Manila kita mestinya juara lagi.


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Lelaki Kembara Itu Bertemu Pulang

#SASTRA - 30/05/2021 · 1 Menit Baca