× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Tentang Magori, Salata dan Wase

Menyelam dalam puisi-puisi Ibrahim Gibra.

Direktur LSM RORANO
Tentang Magori, Salata dan Wase
Peluncuran buku “Karang Menghimpun Bayi Kerapu”. (Foto:Ist)

14/12/2019 · 3 Menit Baca

Awal Juli kemarin saya yang sedang mencari arti beberapa kata lokal Maluku Utara, bertanya pada seseorang yang bisa menjawabnya. "Apa arti magori Prof?" Lalu sebuah puisi muncul di layar Whatsapp. Saya membacanya dalam diam. Indah.

tangkai muda
baru saja bangkit dari sujudnya
lalu tumbuh buah pertama
sebab ibumu menitip sehelai embun
pada sungai yang membelah kampung

Dan saya jadi paham bahwa magori itu, "yang pertama". Dia adalah awal. Sesuatu yang menjadi penanda. Membedakan yang sudah dan belum. Yang baru dan yang menunggu. Sebagaimana puisi itu, saya menunggu "magori" ini hadir secara lengkap. Entah dalam sebuah buku atau sekumpulan puisi yang bisa didekap.

Bagi kebanyakan orang, seorang profesor pasti bicaranya teoritis, terstruktur dan ilmiah. Tapi yang satu ini beda. Meski dia ahli bahasa. Punya saldo kata-kata yang digit-nya berderet dengan satu angka dan empat angka nol di belakangnya. Tetapi perkara menulis puisi tak segampang bicara. Umberto Eco, novelis Italia yang terkenal dengan The Name Of The Rose itu bilang, puisi adalah bahasa yang menciptakan perasaan. Dan tak semua orang bisa. Ini perkara sulit. Jangankan menulis, membacanya saja butuh “rasa”. Sesuatu yang personal. Makanya jadi kejutan saat professor itu menulis puisi-puisi yang hidup dan menggigit.

Gufran Ali Ibrahim bukan profesor biasa. Saya mengenalnya sebagai seorang "guru" yang rendah hati. Bukunya tentang Mengelola Pruralisme masih saya simpan. Ia orang "besar" yang rajin bertutur sapa ke “bawah”. Makanya puisi-puisi yang Ia tulis selalu tentang orang-orang bawah. Memori masa kecilnya tajam. Narasinya kuat dan berkelindan dengan kehidupan keseharian. Dan karena itu pula, buku kumpulan puisinya gurih.

Kombinasi bumbu yang demikian banyak, diracik pula oleh chief yang hebat. Saya juga harus memberi tributte untuk "guru" lainnya yang memberi pelangi di buku ini. Hasan Aspahani adalah lelaki darat. Tak sekalipun Ia menyelam dan bermain bersama ikan di antara karang. Tapi imajinasinya liar. Karena Ia juga penyair yang mahir menuliskan puisi. Jadilah judul buku ini Karang Menghimpun Bayi Kerapu. Sebuah message tentang kehidupan di Maluku Utara. Pada titik ini, puisi menjadi simple karena ia punya tema dan menemukan cara untuk dituliskan. 

Tentang Karang Menghimpun Bayi Kerapu yang berisi 100 puisi Ibrahim Gibra - nama pena Gufran Ali Ibrahim - sejatinya adalah  cara bertutur tentang Maluku Utara di masa lalu, saat ini dan apa yang diimajinasikan nanti. Imajinasi itu bisa juga tentang kota yang punya tol, resto, kereta argo parahiyangan, tiang tiang atau tentang cinta yang memeluk rindu. Gaya menulis ini dalam pandangan Sutarjo Adisusilo disebut sebagai filsafat sejarah spekulatif. Menuliskan semua tentang masa lalu - sejarah - yang pernah terjadi, direkam dalam memori lalu dihubungkan dengan hidup saat ini. Ujungnya adalah tentang kemungkinan yang akan terjadi nanti. Menulis versi ini menggabungkan cara berpikir aposteriori dan apriori.  

Masa lalu diwujudkan lewat magori. Ini sumber hidup. Berasal dari Ibu dan keluarga. Tentang laut, karang, ikan dan pasir. Inilah magori kita anak anak di Maluku Utara yang lahir dan besar bersama laut. Atau juga bersama hutan yang isinya pohon sagu, kenari, kelapa, cengkih dan pala. Semuanya serba pertama. Ada realisme bertutur di situ. Dan Ibrahim Gibra menulis romantisme yang kini mulai hilang tergusur modernitas dalam bait-bait puisi yang tajam. Sebuah historical responsibility yang lepas. Di mana kita hari ini? Di kota yang bising penuh tipu muslihat. 

Kita jadi lupa dengan magori. Lupa bagaimana caranya membuat bubu, lalu merayu ikan dengan daun tagalolo

andaikan aku di ternate
akan kuajak para penyair menyelam ke laut dalam
menetas arus, bertemu kakekku
yang sedang menimang bayi kerapu di teras karang

Karena itu, kita butuh salataSalata menurut Ibrahim Gibra adalah masa ketika pohon berbuah lagi di antara dua musim. Kita akrab dengan kemurahan alam ini. Tetapi bagi saya, salata adalah sebuah jeda untuk perenungan. Berdiskusi dengan Tuhan. Saat yang milenial mendesak dan kita melepas yang lama, hidup ternyata tak menjadi lebih mudah. Harga barang tinggi, uang jadi barang mahal dan karenanya susah di dapat. Kita yang di kota – yang hedonis tapi instan - jadi bingung dan terjebak. Dari mana hidup harus dimulai?.

pohon itu berbuah lagi
di antara dua musim besar
moyangku bilang, itu salata

Salata tak hanya soal buah di antara dua musim. Dia tak abadi. Hanya kadang muncul dan setelah itu pergi. Salata adalah kita hari ini yang gamang antara masa lalu dan masa depan. Sejatinya kita harus memaknai salata untuk memikirkan jalan pulang. Sebagaimana pergantian malam dan siang yang telah diatur Sang Khalik. Kita butuh ujung malam untuk istirahat. Merenung. Di jalan yang benarkah kita hari ini? Besok ketika matahari hadir, apakah kita masih sama dan benar. Ibrahim Gibra dalam tafsir saya memberi pengingat dengan “P” bahwa musim berikutnya belum tentu berlimpah. 

Kita butuh ikhtiar yang lahir dari perenungan-perenungan itu. Kita tak butuh gomatere. Karena jika mau jujur, saat ini kita masih terpuruk di atas tanah dan laut yang kaya. Kita ada di sebuah kesuraman bernama wase. Penuh ketidakpastian.

tapi hari ini
aku dengar kabar duka dari paman di kampung

ia harus ke kota dengan kaki terluka
jadi buruh panggul
sebab kelapa tak jadi kopra
para para padam apinya

Ibrahim Gibra dengan luar biasa membunyikan kata-kata lokal dalam buku kumpulan puisinya ini agar kita mahfum hidup punya siklus. Romantisme masa lalu seharusnya jadi perekat antar sesama. Mendekatkan kita lagi dengan alam. Sulit membayangkan masa depan nanti ketika hari ini kita lebih sibuk memikirkan sesuatu yang berperiode pendek. Kita gagah bicara tentang tambang saat pohon sagu, kelapa, kenari, cengkih dan pala dibakar pemodal kaya. Kita lupa yang di darat itu tak lama. Orang ramai yang tak punya laut mulai bicara blue economic development, kita masih sibuk diskusi tentang gojek, reklamasi dan mal baru, sambil membuang sampah ke laut.

Lewat buku yang tak tebal ini, Ibrahim Gibra memberi otokritik lewat puisi-puisi yang Ia tulis dengan riang. Padahal Ia sebagaimana kita yang sebagian kecil juga gelisah dengan masa lalu yang hilang. Ia menulis puisi–puisi ini karena meyakininya sebagai ibadah. Kata-kata adalah pembuka kebaikan seperti doa yang dirapal dengan lamat-lamat. Ralph Waldo Emerson - filsuf Amerika yang juga seorang penulis - memberi kesaksian penting bahwa melalui puisi, kita mengajarkan (kebaikan) sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sesedikit mungkin. Dengan ini kita berterima kasih pada "Karang" yang masih setia menghimpun bayi kerapu.

 


Share Tulisan Asghar Saleh


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca