× Humaniora Kesehatan Lingkungan Gaya Hidup Perempuan Agama Seni Budaya Sastra Sosok Wisata Resensi Nawala Intermeso Esai Media
#SASTRA

Don Quixote ke Tidore

Mungkin di Tidore, Don Quixote akan menyembah cengkih dan pala, menyangka itu adalah Dulcinea...

Multimedia Editor
Don Quixote ke Tidore
Foto: Den Kisot (Ist)

18/12/2019 · 3 Menit Baca

Saya pertama kali mengenal Si Penggeli Hati ini di awal 90-an. Ia ada dalam buku kumpulan cerita Humor Politik dari berbagai negara yang ditulis oleh Milo Dor dan Reinhard. F, terbitan Grafitipers, yang diberi pengantar oleh Jaya Suprana. Ia masuk dalam kumpulan humor negeri Spanyol. 

Setelah masa itu, saya bertemu dan bertemu lagi dengannya di berbagai karya sastra meski selewat saja dalam cerpen juga novel. Salah satunya yang selewat itu ada dalam The Book of Sand kumpulan cerpen Jorge Luis Borges. Ini cerpen yang aneh pula, berjudul "Yang Lain" diceritakan tentang Borges yang bertemu dengan dirinya sendiri. Obrolan sesama Borges ini ada menyebut tentang koleksi buku yang salah satunya adalah: Don Quixote.

Kian kemari, di akhir tahun kemarin, saya kembali jumpa Don Quixote ini di Gramedia, Matraman, Jakarta. Ia kini menjadi Si Majenun dan Sayid Hamid yang diperkenalkan oleh Goenawan Mohamad pada saya juga padamu barangkali. Dari sinilah, saya jadi tahu, Si Penggeli Hati ini, Don Quixote, adalah karya Miguel de Cervantes (1547-1616) yang sudah berusia 400 tahun lebih. Bahkan, ini adalah novel pertama, lebih tepat, novel Eropa pertama. Begitu, tulis Goenawan Mohamad.  

Membaca Don Quixote, tergambarkan bahwa ia adalah lelaki paruh baya yang kurus, tirus, berdebu, berumur 50 tahun di desa Spanyol. Suatu hari, karena terlalu banyak membaca kisah-kisah kesatria, ia menganggap dirinya kesatria tersehor. Dengan mengenakan baju zirah rongsokan dan menunggang kuda rombeng bernama Rocinante, ia juga mengangkat tetangganya yang lugu, Sancho Panza, sebagai pengawal dan menjanjikannya jabatan gubernur.

Dari situlah kekacauan bergulir. Berdua mereka melakukan pengembaraan konyol. Ditambah khayalan tentang Dulcinea yang ia cintai--seorang putri dari Toboso--menambah kegilaan. Don Quixote kemudian memacari kekasih imajinernya itu.

Siapa yang tak akan tertawa jika membaca kisah petualangan Si Majenun ini. Alkisah, melihat seorang mahasiswa tertawa sendiri tak henti-hentinya, Raja Spanyol, Felipe III (1578-1621) menyimpulkan pemuda itu hilang ingatan atau sedang membaca Don Quixote.

Banyak kekonyolan. Ia pernah berkelahi dengan kincir angin; kena pukul orang-orang yang ia recoki; juga keracunan ramuan obat abal-abal bikinan sendiri, serta ribut dengan pengembala kambing. Berlimpah kesialan dan kegagalan.

Saya pernah membayangkan bagaimana jika ia ikut ke Tidore bersama ekspedisi bangsa Spanyol di bawah pimpinan Magelhaen. Ia pasti lolos dari peristiwa terbunuhnya Magelhaen di Filipina dan bersama Sebastian del Cano, melanjutkan perjalanan hingga menginjakkan kaki di Rum, Tidore.

Mungkin di Tidore, Don Quixote akan menyembah cengkih dan pala, menyangka itu adalah Dulcinea, putri yang dicintainya. Atau ia ikut menari Cakalele juga Salai Jin, mengusir roh jahat, dari pada meminta keikhlasan Sancho Panza mencambuknya 3300 kali agar Dulcinea sang pujaan hati bisa bebas dari sihir.

Dan ini juga barangkali, karena kegemarannya membaca, ia mungkin duduk manis di korakora sambil membaca tulisan-tulisan Antonio Pigafetta, si Italia yang juga adalah salah satu kru Magelhaen yang memang rajin menulis catatan perjalanan mereka saat ekspedisi.

Don Quixote ke Tidore lalu Ternate

Kemarin ada kabar gembira, Don Quixote akan hadir di Tidore dan Ternate. Flyer yang beredar di sosial media menyatakan ia menyamar mengunakan nama Sunda, Den Kisot dalam pertunjukan teater boneka. Dan kali ini, penyamarannya ganda sampai ke penulisnya. Bukan Cervantes, tapi Goenawan Mohamad. Ada pula Nukila Amal, Si Cala Ibi, Gam Madihutu, sebagai penyelaras naskahnya. Namun sehebat apapun penyamarannya, Si Majenun ini tetaplah majenun yang tak akan bisa ia samarkan.

Seperti yang saya baca pada beberapa berita daring, pertunjukan sebelumnya 'Den Kisot' memasukkan unsur komedi khas Indonesia. Ada adegan-adegan yang penuh guyonan Tanah Air. Saya jadi berharap, semoga ada guyon ala Moloku Kie Raha. Saya ingin menontonnya, ingin tahu pesannya. Pesan yang dibeber Den Kisot ini, pasti gila. Seperti dirinya; gila, dungu, ceroboh dan konyol. Meski begitu, toh ia tetap meyakini bahwa dirinya adalah satu-satunya kesatria yang berhak menyelamatkan manusia yang mengalami kezaliman.

Jadi tetapkanlah ia begitu. Saya setuju dengan Bangsawan Barcelona yang memprotes saat Don Quixote hendak disembuhkan dari waham-nya:

"Senor, semoga Tuhan memaafkan tuan atas kerusakan yang terjadi karena ulah tuan yang hendak menyembuhkan kesehatan jiwa seorang gila yang paling menyenangkan! Tak tahukah tuan bahwa keuntungan yang didapat bila Don Quixote sehat tak akan sebanding dengan kenikmatan yang kita peroleh karena ia gila?"


Share Tulisan Ghazali Hasan


Tulisan Lainnya

Benny

#ESAI - 10/08/2021 · 15 Menit Baca

Delusi

#ESAI - 03/08/2021 · 15 Menit Baca

Saturasi

#ESAI - 26/07/2021 · 15 Menit Baca